Halaman

    Social Items

Hasrat Bercinta - Cerita Sex Langganan, Telah 2 bulan ini aku menjalankan bisnis menjual juice buah asli dalam bentuk gelas dan botol kecil. Aku

sendiri belum pernah menghitung apakah rugi atau ada untung walaupun sedikit. Setiap hari harus bangun

subuh untuk mengupas; mblender dan mengepres gelas dengan alat pemanas plastik agar tidak tumpah, itupun

terkadang masih ada satu dua gelas yang tak menutup sempurna. Kemudian mengedropnya di beberapa tempat

yang telah kami tawarkan sebelumnya. Saat awal menawarkan kerja sama ini memang berat, karena unsur

meyakinkan orang adalah teramat penting.


Telah beberapa kali kami menerima pesanan dalam bentuk botol kecil maupun gelas oleh instansi maupun

perorangan. Hal itu bermula dari kami menyebar penawaran dalam bentuk kertas photo copy-an di perempatan

jalan dan acara – acara arisan dan sejenisnya. Tentunya harga telah kami sesuaikan sebelumnya, lain bila

untuk dijual lagi. Mereka jelas tidak keberatan dengan harga yang telah kami tetapkan tersebut, sebab

rata – rata dari kalangan menengah ke atas. Slot Online Terpercaya


Acara seperti arisan tentu pesertanya adalah kaum ibu – ibu, baik yang masih muda maupun setengah baya.

Normal saja jika melihat kaum hawa yang menawan hati kita akan merasa tertarik.


Di sinilah pengalamanku akan kuceritakan. Sebut saja Ibu Lis. Suaminya seorang notaris yang cukup sukses

di kotaku. Ibu Lis dulu pesan juice dalam bentuk botol kecil dengan nilai 150ribu, jumlah yang cukup

lumayan bagi kami. Rupanya akan dijualnya lagi di arisan kelompoknya.


Ibu Lis adalah sosok ibu rumah tangga yang quite enough personality, wajar mengingat latar belakang

suaminya. Tingginya 155cm-an; semampai; rambut sebahu; manis wajahnya ( skor 7 ); dengan umur kutaksir

40an. Tidak ada perasaan apapun saat pertama bertemu mengantar pesanan. Aku menghormatinya sebab

pelanggan merupakan ujung tombak penjualan. Dari mereka yang merasa puas tentu diharapkan akan bercerita

kepada teman; saudara; dan lembaganya untuk ikut mengorder kepada kita.


Terhitung sudah 3x ini Ibu Lis memesan juice dalam nilai yang lumayan. Dulu belum kuberikan nomor hpku

karena langsung order pada tanteku. Berhubung yang mobile aku, akhirnya tante memberi nomor2 langganan

khusus padaku. Hari ini Ibu Lis pesan juice lagi, tentu nilainya ok. Ia sms


˝Mas, bisa diantar ke rumah jam berapa ?˝ Bergegas kujawab

˝Ya Ibu mau jam berapa pasti saya antar ˝.

˝Ok..jam 9 kalo gitu ya. Saya tunggu˝. Balas lagi,

˝Ya Bu..terima kasih˝. Setelah semua selesai ku-packing, starter motor,…wusss berangkat. Sampai di

rumahnya pukul 8.15.


Aku mencari tombol bel rumahnya, tet..tet ( cukup 2x, di atas 3x kurang ajar ). Ibu Lis keluar dari

dalam rumah masih memakai baby doll.


“Lho kok sudah nyampai..?”

“Iya Bu..biar sama2 enak”.

“Oo..makasih lho Mas. Jadi saya juga bisa cepet berangkat. Oh ya..ini uangnya”. Ibu Lis menyodorkan

sejumlah uang dan kuhitung ada lebihnya,

“Kembali 20ribu Bu.”.

“O ya..nggak pa2. Buat Mas aja..udah pagi2 nyampenya”. Ia menjawab sambil tersenyum.

“Manis juga dia..”, begitu pikirku.

“Sebentar dulu..”, ia menyuruhku menunggu, entah ada perlu apa lagi.


Setelah keluar lagi sambil membawa kunci mobil,


“Mas..bisa minta tolong dimasukkan mobil sekalian..?” “Oh..bisa Bu”, aku menjawab sambil menerima kunci

mobilnya.


Kutekan tombol alarm mobil dan kuletakkan cooler juice di jok tengah. Hal yang tak kusadari adalah

ternyata Ibu Lis mengikutiku. Saat mengangkat cooler yang lumayan berat,


“Saya bantu Mas..” Aku terkejut kaget,

“Oh..bisa kok Bu..makasih“. Tapi ia tetap ikut mengangkat dan aku tak merasa bahwa rupanya tadi sempat

menyenggol sisi dada kanan Ibu Lis.


Setelah 5detik kemudian baru aku menyadarinya,


“Maaf Bu..nggak sengaja..“

“Apanya..ohh..nggak pa2“. Ia hanya tersenyum.


Segera kurapikan letak cooler, kukunci mobil dan kuserahkan kuncinya.


“Sudah Bu..maaf yang tadi..“ Ia menerima kunci dan berkata

“Udah..nggak pa2 kok Mas..terima kasih sudah dibantu ya..“

“Iya Bu..saya yang terima kasih..“ Aku cepat2 starter motor dan segera kabur dari rumahnya,

“Waduh gawat..semoga dia gak marah dan masih mau pesen..Untung gak ada yang liat juga tadi..“. Berbagai

pikiran serba salah dan malu memenuhi pikiranku. Tapi segera kutepis,

“Ahh..gak tau..semoga tidak apa2. Masih kenceng juga susunya..“ Aku nyengir mengingat kejadian tadi.


Saat masih di jalan mendadak hpku bergetar, aku menoleh kiri kanan jalan untuk menepi guna melihat siapa

yang telpon atau sms aku. Kubaca tertera Ibu Lis,


“Mas, mau ngrepotin lagi, bisa nggak..?“

“Ada apa ya..“, aku berpikiran macam2,

“Kalo saya bisa, saya bantu Bu..“.

“Gini lho Mas, sopir yang biasa sama saya nggak bisa nganter, istrinya agak panas badannya.


Kalo Mas nggak sibuk, saya minta tolong dianter. Saya sih bisa nyetir, tapi kalo jaraknya agak jauh

masih takut“. Aku nggak langsung balas smsnya,


“Gimana nih..sebetulnya udah selesai semua sih. Tapi nanti kalo tante tanya mo ke mana tak jawab apa..?“

“Bisa kok Bu, udah selesai semua kok. Nanti Ibu jemput saya di jalan di deket rumahnya tante saja“.

“Oh gitu, ya udah. Makasih banyak Mas, ngrepotin terus“.

“Nggak ngrepotin kok Bu. Kalo saya bisa ya saya bantu“. Balas2an sms berakhir.


Sesampainya di rumah tante, aku parkir motor dan mencari tanteku yang sedang di dapur.


“Tan, aku dijemput temenku. Diajak cari buku..tak tinggal dulu ya“. Tanteku menjawab,

“Ya..semua kerjaan sudah selesai tho“.

“Udah semua kok Tan..keluar dulu ya..“

“Ati2 ya..“, tante menjawab sambil masih asyik memasak.


Lalu aku ke kamar mengambil sebungkus rokok untuk menemani menunggu Ibu Lis datang nanti. Aku berjalan

ke jalan besar depan gang rumah tanteku. Aku duduk di batu di trotoar dan kukeluarkan sebatang rokok

lalu kunyalakan. Sambil merokok aku berpikir,


“Disuruh ke mana ya sama Bu Lis..moga gak jauh2 amat“. Selang 10menit kemudian sebuah mobil mendekati

trotoar.


Aku tak menyadarinya karena asyik menikmati rokok.


Iklan Sponsor :


“Ayo Mas..berangkat..“. Aku menoleh ke samping dan kulihat sebuah mobil yang kukenal,

“Lho itu Bu Lis sudah datang“. Kaca kiri depan turun setengah dan kulihat sebentuk wajah Ibu Lis.

“Oh iya Bu berangkat sekarang“. Ibu Lis memakai kaca mata hitam yang pasti ber – merk; bergaun terusan

warna oranye cerah; berkalung manik2 kecil2 warna biru; di kursi kiri tergeletak tas hitam mengkilat.


Ibu Lis lalu keluar dan kubukakan pintu kiri depan. Tercium parfum yang kukenal. Kemudian aku menuju

pintu kanan; duduk; menyesuaikan kursi dan spion mobil; baru menjalankan mobil. Semua itu tak lepas dari

pandangan Ibu Lis,


“Mas teliti sekali ya..“. Aku menoleh,

“Iya Bu..kan biar saya nyaman nyetirnya dan demi keamanan”. Ibu Lis tersenyum mendengarku.


Sambil menyetir aku sempatkan melirik Ibu Lis,


“Tambah manis aja kalo udah dandan. Oh iya..memang manis dan ada dana sih..”.

”Oh ya Bu..ini mau ke mana..?“

“Ke jalan Mayjen Sungkono Mas..“. Memang cukup jauh dari rumah Ibu Lis.

“Mas..maaf umurnya berapa?“ Ibu Lis bertanya.

“30 lebih Bu..“.

“O ya..kalo gitu terpaut sedikit dengan saya. Kalo gitu panggil Mbak aja biar enak“.

“Emm..nggak enak Bu..“.

“Nggak pa2 kok…“.

“Tapi kalo sedang berdua saja..maksud saya kalo di mobil atau sms. Di luar itu tetap Ibu..ya Bu..eh

Mbak..“ Ia tertawa mendengar aku agak gugup.

“Iya Mas..oh ya..sampai lupa. Nama Mas siapa..udah beberapa kali ketemu belum tau nama..maaf lho Mas..“

“Nggak pa2 kok Mbak..Iwan Mbak“.


Aku baru menyadari, rok terusan itu panjangnya sedikit di atas lutut dan..belahan dadanya sedikit lebar.

Maka saat posisi duduk Ibu Lis berubah ke kiri, belahan dada sebelah kiri ikut terlihat walau hanya

sedikit. Itupun sudah cukup membuatku ada bunyi ting2 di kepala. Dan panjang rok itu ikut naik sedikit

bila Mbak Lis mengobrol padaku dengan sedikit memiringkan tubuhnya ke kiri.


“Cukup putih juga kulitnya..Iyalah..dirawat..“ Mbak Lis tak sadar atau membiarkan saja posisi gaunnya.

“Lumayan..pagi2 gratisan pemandangan indah“, bunyi pikiranku berdendang.


Kami mengobrol apa saja hingga mendekati jalan dimaksud.


“Arah mana ini Mbak..?“

“Masih terus..itu ada mobil hijau keluar dari gang Mas masuk aja.


Nanti saya beri tahu nomornya“. Setelah 5menitan,


“Nah..itu ada banyak mobil berhenti. Rumahnya no 40, pagar biru“. Aku menghentikan mobil tepat di depan

rumah,

“Mbak turun dulu..nanti cooler – nya saya yang bawain“.

“Duh..makasih lho Mas..ngrepotin lagi..“.

“Mbak..jangan bilang gitu terus..saya jadi gak enak“.

“Iya deh..“ Setelah berputar dan mencari tempat parkir, aku turun dengan membawa cooler.


Lalu aku masuk ke rumah, di sana sudah banyak ibu2. Ada yang masih muda dan banyak juga yang sebaya Mbak

Lis. Ia menghampiriku dan berbisik


“Taruh di dapur aja Mas..biar di atur pembantu2 nanti..“ Aku mencari dapur yang dimaksud dan kuletakkan

di sana.


Sempat kudengar ada yang bertanya siapa itu, maksudnya aku tentu, dan dijawab keponakannya. Aku langsung

keluar rumah dan menuju mobil. Belum sampai mobil Mbak Lis memanggilku,


“Mas..ini ada sedikit sangu buat Mas..kalo nunggu saya pasti bosan. Paling 2-3jam lagi baru selesai

acaranya“. “Ha..oh..aduh..nggak usah Mbak..aku ada kok..“ Padahal cuma ada 20ribu di dompetku.

“Sama kayak siapa aja..udah ambil aja..“, sambil tangan kananku digenggamnya, halus, dan terasa ada

sebentuk uang di tanganku.

“Makasih Mbak..kalo gitu nanti tak jemput 2 – 3jam lagi ya..“

“Atau..nanti kalo mau bubar tak sms aja Mas..“.

“Iya deh Mbak..”. Mbak Lis bergegas kembali ke rumah dan aku masuk mobil.


Kulihat ada selembar uang 100ribu di tangan.,


“Wah…lumayan nih..buat apa ya..nonton atau main game ya..“. Aku bertanya pada diriku sendiri, akan

digunakan untuk apa uang ini.

“Ah..pikir nanti aja..yang jelas sekarang ke mall deket sini“. Kulirik jam tangan,

“Gak usah ngebut..masih banyak waktu“. Sesampainya di mall, aku belum putuskan akan ke mana.


Iklan Sponsor :


Akhirnya aku ingin main game dulu sepuasnya, lalu makan. Tak terasa waktu melesat bagai anak panah. Jam

tanganku menunjukkan bahwa tak lama lagi arisan akan berakhir. Aku segera menyelesaikan makanku;

membayar di kasir; menuju parkiran mobil; dan meluncur di jalan guna menjemput Mbak Lis.


Benar saja. Hpku berbunyi,


“Halo..Mas..setengah jam lagi saya dijemput ya. Mau selesai nih acaranya“.

“Oh ya Mbak..ini tinggal 2km-an kok“.

“Ya deh..“. Sampai di sana, kulihat Mbak Lis dengan teman – temannya sudah di depan pagar.


Aku berhentikan mobil dan kubuka pintu depan kiri serta pintu tengah untuk memasukkan cooler, yang

dibawa pembantu pemilik rumah.


“Daagghh..sampai ketemu lagi ya semua..“, Mbak Lis berpamitan. Tak sengaja kulirik, ada beberapa teman

Mbak Lis yang senyum2 padaku dan Mbak Lis, entah apa maksudnya.


Kami pun kembali bergabung dengan kendaraan – kendaraan lain di jalan raya.


“Habis Mbak juice – nya..?“.

“Iya..syukur. Pakai ngancam juga soalnya..ha3x..“.

“Wah..ganas juga Mbak ini..“.

“Ganas..maksudnya..?“.

“Ha..oh..maksudku serem juga Mbak..pakai acara ngancam segala“.

“Ohh..tak pikir ganas apa“, sambil tersenyum.


Aku tersenyum juga dan benakku berkata


“Lha..yang tak maksud memang itu..tapi kayaknya Mbak gak ngeh. Maksudnya ganas apa tadi apaan ya..?Tau

deh“.Cerpen Sex


Kami lalu berbincang ke sana kemari, tiba – tiba


“Mas..mau ngrepotin sekalii lagi..kalo nggak capek dan bosen tak mintain tolong sih..“. Aku bertanya2

dalam hati “Apa lagi..“.

“Mau tak anter ke mana Mbak..?“.

“Gini..aku pingin ke Batu..nglepasin pikiran dan capek..gimana..?“.


Mbak Lis menatapku dengan pandangan yang kubayangkan seperti film Sinchan bila memohon sesuatu pada

Mamanya.


“Gak ada acara ke mana2 sih aku Mbak..kalo Mbak sendiri gak capek..ya ayo aja“.

“Bener nih..wah..makasih banget ya Mas..semoga gak kapok ya..“, dengan tangan kanannya memegang,

tepatnya kurasa mengusap, tangan kiriku yang sedang menyetir.

“Yah..makasih lagi..gak jadi aja wis..“, aku menggodanya.

“Eh..iya..iya..ngambek ya..“, rupanya Mbak Lis takut kalo aku benar2 tidak jadi menemani ke Batu.


Aku hanya terseyum lebar. Padahal dalam hati aku sedikit mengeluh


“Waduh..udah jam segini..jalan Porong kan gak bisa diprediksi. Ahh..liat nantilah“.


Jadilah sepanjang perjalanan ke Batu ada saja hal2 yang kami bicarakan. Sewaktu di daerah Pandaan,

kulirik Mbak Lis yang rupanya telah tertidur.


“Pantes..tak ajak ngomong gak njawab..Kasihan..capek pastinya“. Mbak Lis sepertinya pulas, nafasnya

turun naik teratur.

“Kalo pas gini Mbak Lis tambah manis aja..Lha..belahan dada kirinya kok tambah lebar lagi.


Tak benerin atau nanti bangun malah. Biar ajalah, nanti kalo bangun tak kasih tau. Lumayan..ada yang

bisa dilihat pas jalan bikin kesel hati”.


Menjelang sampai Batu, kudengar ada gesekan baju dan kursi,


“Udah bangun Mbak Lis rupanya“.

“Duh..enaknya tidurnya Mbak..kayaknya capek banget”.

“Hmm..iya nih..nggak tau kok ngantuk bener dari tadi”. Mbak Lis mengerakkan dua tangannya ke depan dan

terdengar derak jari2nya.

“Maaf ya Mas..tak tinggal tidur..lama lagi”.

“Gak pa2 Mbak..kalo gak dibikin tidur nanti nyampe Batu malah bisa gak enak semua badan. Kan katanya mau

rileks sejenak”.

“He3x..iya..Oh ya..nanti sebelum nyampe Batu makan dulu yuk..laper nih”.

“Iya Mbak..udah nahan dari tadi”, sambil aku nyengir. Akhirnya kami mencari rumah makan,

“Mau makan apa Mas..?”.

“Enaknya sih dingin gini makan sate..sate apa ya..kambing aja wis”.

“Aku juga tapi gabung sama Mas aja ya..10 tusuk Mas aku lima aja. Biar bikin panas badan kata orang. Aku

pesen lele penyet aja..Mas juga..?”.

“Liat nanti Mbak..kalo punya Mbak gak habis tak habisin nanti”. Kami makan sambil berbincang2.


Aku lihat sekeliling, rupanya sedari tadi ada beberapa yang memperhatikan kami, mungkin dianggap

sepasang kekasih. Karena kuakui kami cukup akrab, padahal baru pertama kali ini sedemikian dekat.


“Mas mau ngabisin lele ini..kenyang aku”.

“Hmm..ya deh..sayang udah dibeli”. Setelah makananku habis

“Mbak..aku ngrokok ya..?”, aku minta persetujuannya.

“Gak pa2 Mas..kan biasanya emang gitu. Apalagi udara dingin gini”.


Aku menyalakan 234 sebatang, pusss..


“Enaknya..kenyang pas di tempat dingin lagi”. Rokok pun habis

“Terus..ke mana sekarang Mbak..?”.

“Sambil jalan aja yuk..”. Kami pun kembali ke mobil setelah Mbak membayar makanan kami.


Di dalam mobil


“Mas..emm..jalan dulu aja wis”.

“Ada apa sih Mbak..bilang aja”.

“Gak dulu..jalan aja ya”. Aku hanya memendam pertanyaan

“Ada apaan sih..ada masalah ta Mbak Lis..?”. Aku menjalankan mobil dengan kecepatan sedang, menunggu

keluarnya perkataan Mbak Lis.


Selang 10menit kemudianCerpen Sex


“Gini Mas..aku pingin nginap di Batu. Tapi kalo Mas keberatan ya sebentar aja di sana”. Deg, hatiku

“Waduh..gimana nih..sebetulnya gak pa2 sih. Aku juga free”.

“Tapi orang rumah Mbak gimana..?”, aku bertanya.

“Kalo Mas setuju..ya sekarang tak telpon bilang di ajak temen2 nginap di manalah..”

“Ya udah..nanggung juga, udah jam segini. Aku gak ada acara ke mana2, nanti tante tak telpon juga”,

jawabku. “Makuasih buanyak ya Mas..jarang2 lho ada anak kayak Mas”.

“Ah Mbak..jadi besar nih..”, godaku.

“Besar apanya Mas..?”.

“Ya besar kepala lah Mbak..”, aku tertawa.

“Uhh..bisa aja”, sambil tangan kanannya menggelitiki pinggangku.

“Kok gak geli Mas..?”, tanyanya heran.

“Dari kecil tu aku gak pernah geli kalo digelitikin. Katanya sih..kuat..”, aku tidak meneruskan

kalimatku.

“Kuat apa Mas..?”.

“Emm..kuat nge – sex”, entah dengan keberanian apa aku berbicara itu.


Pikirku “Biar aja..lagian kita udah kayak kakak adik dari tadi”.


“Hah..masak sih..aku baru denger”.

“Ya kan kata orang Mbak”.


Duduk Mbak Lis lebih miring ke kanan, sepertinya tertarik dengan perkataanku


“Jujur aja..Mas pernah main sama cewek kan..?”. Aku kaget juga

“Ya iyalah Mbak..kalo main ma cowok tu kalo cewek udah gak memuaskan lagi..hi3x”.

“Terus..udah berapa kali?”.

“Baru 6 – 7 kali – an. Emang kenapa Mbak?”.

“Nakal juga ya..Terus..ceweknya gimana..maksudku puas apa gimana?”. Aku berpikiran

“Wah..omongan kita udah menjurus2 nih..Cuek ah”.

“Seingatku dan perasaanku sih puas kayaknya. Kenapa Mbak tanya2 terus kayak polisi sih..Emang siapa mau

mraktekkin sama aku..temen Mbak..atau..?”.

“Atau apa eh siapa Mas?”, Mbak Lis penasaran sepertinya.

“Yaaa..Mbak kali..hi3x”. “Heii..nakal amat ya..”, dengan tambahan mencubit lengan dan kuping kiriku.

“Aduh..atit kan..Abis nanyanya gak habis2”, aku berlagak seperti anak kecil.

“Huh..awas ya nanti..”, Mbak Lis duduk menghadap depan lagi dengan tangan di dada dan bibir yang

meruncing. “Ha3x..duh..manis..maap ya..Cup3x..”, aku membujuknya dengan menepuk2 lengan dan pipi

kanannya.

“Ih..pakai pegang2 pipi”, Mbak Lis berkata sambil mengelus pipi kanannya seakan2 tersentuh sesuatu yang

tidak enak.


Aku hanya tertawa. Kita seperti saudara atau anak kecil saat itu.


Kami mencari penginapan yang banyak tersebar di Batu. Tiba di penginapan, CS penginapan bertanya


“Mau dua kamar Bu?” Mbak Lis cepat menjawab

“Nggak 1 aja, yang single bed ya Mbak, makasih”.


Aku pura2 tidak mendengarnya dan keluar ruangan untuk menyalakan rokok lagi


“Mungkin Mbak takut tidur sendiri di tempat yang baru seperti ini”. Udara bertambah dingin

“Tau gini tadi bawa jaket atau sweater”, aku menakupkan tangan kanan di dada.

“Mas..kenapa..dingin ya?”

“Ya iyalah Mbak..masak kepanasan di sini”, sambil nyengir.

“Berhubung kita gak bawa baju ganti, cari yuk di sekitar sini”, ajak Mbak Lis.

“Terserah Mbak aja”, jawabku.


Kami keluar penginapan dan menuju pasar yang terdekat. Mbak Lis membeli baju hangat 1; daster 1 dan

underwear 1set. Sedang aku diberi uang dan jelas aku beli keperluanku sendiri, hanya 1 kaos dan 1 kaos

hangat. Kami membuat janji bertemu di dekat mobil.


“Beli apa Mas?”.

“1 kaos sama 1 kaos hangat”.

“Ha..gak beli cd ta?”.

“Gak Mbak..biasa cowok”, kataku sambil garuk2 kepala.

“Jorok ah..walaupun besok kita pulang tapi udah seharian kan. Tak beliin aja wis”.

“Tapi Mbak..”, belum sempat kulanjutkan Mbak Lis sudah melesat ke kios sebelah mencari cd yang dirasa

pas buatku.


Kami telah berada di mobil kembali


“Nih Mas..moga cukup”, Mbak Lis menyerahkan kresek hitam padaku.


Kulihat ukurannya ternyata benar, warna biru


“Kok bisa tau Mbak ukuranku? Makasih ya Mbak”.

“Yaa kira2 aja. Cowok tu juga harus jaga kebersihan”.

“Iya Mbakku sayang..”, rajukku.

“Huu..nggombal sekarang ya”.

“Ya kan emang bener. Kita kayak udah saudaraan lama dan dekat”.

“Iya juga sih..”.


Tak lama kemudian kami telah berada di penginapan lagi.


“Kamar berapa Mbak?”.

“201 Mas”. Aku menuju CS dan mengambil kunci.


Penginapan itu cukup bagus dengan fasilitas kolam renang dan lapangan tenis. 5menit kemudian kami telah

berada di depan pintu kamar. Aku keluarkan kunci dan kubuka pintu


“Silakan Mbak yang manis”.

“Ah..Mas nggombal lagi”.

“Ya udah kalo gak mau dibilang manis..Mbak yang agak lumayan”, kugoda lagi.

“Gak mau bilang manis ya wis..gak pa2”, Mbak Lis tidak melihatku, langsung masuk.


Aku agak mengejarnya dan kugelitik pinggangnya.


“Ehh..geli tau”, Mbak Lis menghindar sambil badannya berputar tapi tak urung terkena sedikit.


Aku tertawa melihat tingkahnya. Kukunci pintu dan lampu2 langsung menyala.


“Sepertinya bintang 3 ini. Padahal kita cuma semalam..ah biar aja. Mbak kan memang duitnya lebih dari

orang kebanyakan”, pikirku.


Kami meletakkan belanjaan di meja dekat tv. Aku menuju kamar mandi untuk buang air kecil sekalian cuci

muka, lengket kurasa dari tadi. Pintu kamar mandi sengaja tak kukunci, toh hanya kami di dalam kamar.

Saat penis masih mengeluarkan air tiba2 pintu terbuka. Ternyata Mbak Lis melongokkan kepala ke dalam


“Lho..gak dikunci tho..pipis ya Mas”. Aku menoleh dan

“Iya Mbak..kan cuma ada kita dan ya aku pipis lah, masak nyemen tembok”.

“Huu..”, cuma itu sahutannya dan pintu disisakan celah, tidak ditutup lagi.


Aku lalu mencuci muka dengan sabun. Keluar dari kamar mandi kulihat Mbak Lis sedang mengeluarkan

belanjaannya dan dipaskan di badannya.Cerpen Sex


“Cocok kok Mbak dasternya”, aku mengomentarinya.

“Eh..iya”. Daster itu berwarna putih berbunga biru kecil2, agak tipis.


Mbak Lis meletakkannya lagi dan menuju kamar mandi dan kudengar suara khas wanita sedang buang air

kecil. Dari kaca yang ada di depan tempat tidur kulihat pintu kamar mandi tidak ditutup Mbak Lis,

tersisa celah. Tapi tak kuhiraukan, nanti dianggap kurang ajar kalau ketahuan. Aku menyalakan tv dan

kucari channel kartun, pas, Tom & Jerry. Walau telah beberapa kali kulihat tapi pasti judul2 tertentu

membuatku tertawa lebar.


“Liat apa sih Mas..ya ampun kartun. Udah gede kan”, Mbak Lis keluar kamar mandi dan melihatku tertawa

lebar.

“Kartun kan sepanjang jaman Mbak..gak ada istilah udah gede atau masih anak2”, aku berkomentar balik.

“Iya deh..kadang memang lucu2 sih”.

“Mbak mau mandi dulu atau aku atau..”, kalimatku sengaja kugantung.

“Atau apa..”, tanya Mbak dengan raut muka sudah mengerti kelanjutannya.

“Mandi bareng..”, yang kubarengi meloncat ke samping kiri tempat tidur karena Mbak Lis segera ke arah

kanan dan akan mencubit atau apalah.


Jelas terlihat wajahnya yang geram dengan ucapanku.


“Hei..mau ke mana..sini..Nggoda terus dari tadi”. Aku berpindah2 ke kanan dan kiri, menghindarinya.


Mbak Lis juga demikian.


“Udah..udah..keringatan nih Mbak..ampun deh. Gantian tadi aku ditanya2 terus..he3x”.

“Huh..iya..jadi keringatan. Awas nanti”. Masih dengan muka cemberut Mbak Lis menghentikan aksinya lalu

berbaring telentang.


Nafasnya turun naik cepat. Aku elus kepalanya


“Maap Mbakku..udah mandi dulu sana, abis itu aku”. Dia diam, hanya menarik nafas pelan2

“Iya..tapi tetep awas nanti”.

“Sedari tadi bilang awas terus..emang mau mbalas apa sih?”, batinku.


Mbak Lis bangun dan mengambil daster putih lalu melempar bantal ke arahku dan berlari ke kamar mandi.

Aku kaget tapi masih sempat menangkap bantal itu


“Lucu juga Mbak Lis itu”. Aku lanjutkan mencari channel film atau lagu2 80 – 90an.


Kulihat lagi pintu kamar mandi tak tertutup


“Mbak..pintunya gak ditutup ta. Tak tutup ya..”.

“Eh jangan..Aku pernah kekunci makanya kalo aku udah kenal sama orang aku percaya aja. Kenapa..mau

ngintip ya..”. “Oo gitu..Benernya gitu sih..hi3x”.

“Sini..tak semprot air nanti”.

“Emoh kalo gitu”. Kuperhatikan lagi walau samar2 dari kaca depan tempat tidur “Tubuhnya masih ok

juga..sayangnya gak keliatan..hi3x”.


Tak sadar aku tertidur. Terbangun saat kurasakan sentuhan hangat di pipi kananku dan


“Mas..ketiduran ya..mandi dulu gih..biar enak”.

“Hmm..iya Mbak”, sambil menggeliat dulu.


Tapi mataku langsung terbuka lebar. Mbak Lis keluar dari kamar mandi dengan berdaster putihnya yang

sedikit tipis serta underwear yang membayang terkena sinar layar tv.Cerpen Sex


“Hitam ternyata warnanya..my fave nih”. Mbak Lis cuek saja karena jelas bahasa tubuhnya memperlihatkan

bahwa ia tidak terganggu dengan kondisi dasternya.


Aku lalu bangun mengambil kaos dan cd lalu ke kamar mandi,dengan pintu tak kututup.


“Kok gak ditutup Mas pintunya?”.

“Sengaja Mbak..siapa tau ada yang mau ngintip..he3x”.

“Huu”, hanya itu komentar Mbak Lis.


Aku menyalakan air hangat yang kuimbangi dengan air dingin, mau berendam. Setelah kurasa cukup

ketinggiannya aku bersabun dulu, kubilas lalu masuk ke bathtub. Nyaman sekali rasanya, setelah seharian

di jalan. Sempat tertidur aku. Kemudian aku membuka pembuangan air bathtub dan mengeringkan tubuh.

Keluar kamar mandi kulihat Mbak Lis tertidur lagi, sepertinya menunggu aku selesai mandi, sebab posisi

tidurnya menghadap arah kamar mandi. Dengan posisi seperti itu, gunung indahnya lumayan terlihat karena

belahan daster di dada cukup lebar. Sejenak aku merasa bangkit nafsuku


“Duh..bikin pingin menyentuh aja nih posisinya”. Kemudian aku hati2 duduk di sebelah kanannya dan kuusap

pipi kirinya

“Mbak..Mbak..gak dingin ta..”. Mbak Lis tidak mendengar sepertinya.


Aku menarik selimut dan akan kututupkan ke tubuhnya. Belum sempat sampai ke bagian dada, Mbak Lis

membuka mata mungkin merasa ada gesekan kulit dengan sesuatu.


“Hmm..oh..udah selesai mandinya Mas..”.

“Udah Mbak..enak ya tidurnya..maaf ngganggu”, sambil kuelus rambut di keningnya.


Entah, reflek saja saat itu. Mungkin kedekatan kami dan mulai timbul rasa sayang di diriku. Mbak Lis

menatapku mesra


“Emm..iya Mas..Abis berendam tadi jadi ngantuk”.

“Iya Mbak, aku juga udah ngrasa enak sekarang. Makasih ya udah ngajak aku ke sini, pake bathtub lagi.

Jadi bisa berendam”.

“Sama2 Mas”, Mbak Lis menggenggam tanganku yang ada sedang bermain2 dengan rambut di keningnya.

“Jadi laper lagi nih Mbak. Pesen makan ya Mbak ?”.

“Pesen aja. Aku juga laper lagi. Mana daftar menunya Mas?“. Kuambil daftar menu yang di tergeletak di

meja tv.

“Aku pesen nasi goreng special aja Mas sama jeruk anget“.

“Aku yang seafood aja, minumnya sama“. Aku menekan tombol room service dan menyatakan pesanan kami.


Mbak Lis menarik selimut yang masih di bagian perutnya hingga ke dada.


“Mas gak dingin ta..masuk aja“.

“Iya sih..“. Aku lalu ikut masuk ke balik selimut, hangat.

“Mbak..kenapa gak dua kamar pesennya?“.

“Aku takut sendirian..kan tempatnya baru kukenal“.

“Heeh“, jawabku.

“Mas..nanti aku ke kamar mandi kalo pegawainya ketok pintu..gak enak aja. Uangnya ambil aja di tas“.

“Baru mau bilang aku“. T


ak lama kemudian ada yang mengetok pintu. Mbak Lis bangun dan menuju kamar mandi lalu menutup pintunya.

Pegawai room service masuk membawa pesanan kami lalu kubayar serta kuberi tip. Setelah ia keluar kamar,

kuberbisikCerpen Sex


“Mbak..udah“. Mbak Lis keluar kamar mandi dan kembali berselimut.

“Wah..banyaknya porsinya“.

“Iya nih Mbak..gak tau abis gak ini“. Kami makan sambil melihat film barat diselingi mengobrol.


Piring2 kami letakkan di meja samping tv.


“Mas..beliin body lotion yang nggak terlalu lengket dan baunya yang enak ya“.

“Buat apa Mbak..malem2 gini. Kan pagi harusnya“.

“Engg..kalo boleh..tapi kalo Mas capek ya gak usah“.

“Nggak Mbak..udah biasa kok. Apa sih Mbak ?“.

“Enngg..mau minta pijet..“, sambil matanya menatap penuh harap.

“Oo..tak pikir apa. Bisalah Mbak“. Aku keluar kamar dan menuju drug store penginapan di depan.


Di sana aku beli lotion yang kuanggap paling bagus. Terlintas di benakku


“Kayak2nya berlanjut nih..apa beli kondom juga ya..“. Daripada kepikiran terus, aku beli kondom 2dus

kecil isi 3.

Sampai di kamar Mbak Lis sedang memejamkan mata

“Apa tidur lagi ya..“.

“Mbak..ketiduran lagi ya..“, kutepuk pelan pipi kirinya.

“Emm..abis Mas lama sih..beli apa aja sih“.

“Tadi yang jaga ngajak kenalan“, aku menggodanya.

“Huu..maunya“.

“Jadi pijetnya Mbak ?“.

“Ya jadilah..tapi matiin lampu ya..“.

“Malu yaa..“.

“Udah sana cepet“. Aku lalu mematikan lampu besar, tv dan kusisakan yang sebelah kananku saja.

“Tv – nya kok dimatiin Mas ?“.

“Nanti gak konsen mijetnya. Mbak geser pas di tengah ya, biar enak“. Mbak Lis menggeser tubuhnya ke

tengah seperti yang kuminta.

“Selimutnya tak buka apa gak Mbak ?“.

“Pake aja..dingin“. Mbak Lis telungkup dengan selimut menutupi tubuhnya.


Aku menyusup masuk dan memposisikan diri agar enak memijatnya. Tangan Mbak Lis kuposisikan seperti orang

menyerah ketika ditodong senjata. Aku duduk di antara 2 pahanya yang kubuka sedikit lebar. Kutuang

lotion di telapak tangan dan sedikit di bagian kaki dulu yang kupijat. Pertama kaki sebelah kiri.

Kupijat kemudian kuluncurkan tangan ke bagian lutut, berulang2, begitu pula kaki kanannya. Mbak Lis diam

saja.


“Pahanya juga ya Mas“.

“Ok Mbak“. Karena Mbak Lis yang memberi perintah maka aku berani.


Hal yang kulakukan saat di bagian kaki kulakukan pula pada pahanya, hanya kuhentikan hingga mendekati

pantat. Mungkin Mbak Lis merasa aku malu atau bagaimana


“Pantatnya dipijet juga Mas..gak pa2“. Aku ragu, tapi kulakukan juga.


Aku singkap daster hingga sebatas pinggang. Sebuah bentuk pantat yang masih lumayan padat, mengingat

usia Mbak Lis. Lalu aku memijatnya, mungkin tepatnya sedikit meremas tapi bukan kategori nafsu. 10

jariku meremas dan meluncur atas bawah, pelan tapi cukup bertenaga, baik bundaran pantat maupun

sisi2nya. Entah benar atau tidak tetapi saat sedikit menyentuh cd bagian belahan dua pantatnya yang

bawah, ada rasa hangat dan basah sepertinya. Mau tidak mau penisku mulai menggeliat bangun. Bagaimana

tidak, berdua di kamar, acara memijat pula. Kulihat Mbak Lis memejamkan mata dari tadi, tapi nafasnya

sedikit berubah.


“Mbak..punggungnya gimana ini. Tak pijat dari luar atau gimana ?“.

“Ya dari dalam Mas..dari luar gak kerasa“. Kepalang basah, toh Mbak Lis sudah memberi lampu hijau.


Aku teruskan saja 2 tanganku setelah dari pantat, naik ke punggung. Tetap kupijat dan kususurkan

tangan2ku. Tanpa meminta persetujuan Mbak Lis, kucari kait bh – nya dan kulepas..tess, tapi tetap berada

di tubuhnya.


“Lepas aja Mas..bisa ?“. Tak kujawab, tali yang kiri kuturunkan dulu hingga lepas dari lengan lalu yang

kanan. “Bentar ya Mbak..maaf“, kuangkat dada bawahnya untuk melepas total bh – nya.

“Hmm..iya“, jawab Mbak Lis tanpa nada marah atau protes. Sedikit tersentuh kulit susu bawahnya,

“Masih kenyal juga“. Penisku makin bangkit dari tidurnya.


Hanya aku tak mau terburu2 untuk bermesraan dengan tubuhnya, belajar dari pengalaman. Wanita akan lebih

terbakar bila irama kemesraan tidak tancap gas.


Kuperhatikan bh – nya, mencari nomor ukuran


“Ukuran berapa nih Mbak ?“.

“Apa..oh..34a. Kenapa kecil ya ?“, Mbak Lis melirik aku yang sedang memegang bh hitamnya.

“34a tu biasa Mbak. Walau kecil tapi kenceng padat aku ya jelas sukalah Mbak. Ya..kayaknya Mbak juga“,


aku menanggapi pertanyaan Mbak Lis yang nadanya mungkin membuatku sedikit kecewa karena ukurannya.


“Huu..belum tau tapi sok tau nih“, jawab Mbak Lis.

“Feeling aja sih Mbak“, aku menyahutinya sambil nyengir.Cerpen Sex


Memijat punggung tentu menyebabkan daster Mbak Lis akan naik, hingga pinggang. Aku memutuskan untuk

mengapit dua pahanya dengan kaki2ku lalu duduk di bawah pantatnya, untuk menjangkau bagian bawah leher

yang tertutup daster. Namun kemudian Mbak Lis menurunkan tali pundak kiri dan kanan, agar aku tidak

kesulitan lalu meloloskan ke dua tangannya. Dari semula pantat; punggung dan kini pundaknya sudah hampir

terbuka semua. Hanya saja dasternya masih menempel di punggung atas.


“Dikurangin dikit tenaganya ya Mas..gak kuat sakitnya“, begitu kata Mbak Lis.

“Iya Mbak“. Pelan tapi sedikit bertenaga begitu kumulai memijat pundaknya dengan 2 tangan.


Sebelumnya kutuang lotion di pundak dan telapak tanganku.


“Tak kurangin lagi Mbak tenagaku ?“.

“Nggak Mas..cukup kok. Hmm..enak“. Dari pundak, kualihkan ke tulang belikatnya,kuurut dan kupijat.


Semakin ke bawah aku baru sadar bila dasternya masih melekat di punggung.


“Mbak..gak dilepas dasternya ? Ngganggu bagian punggung nih“.

“Hm..ya lepas aja Mas. Pokoknya kalo aku diem ya berarti jalan aja“.

“Ok Mbak“. Aku tarik daster ke atas melewati kepala.


Mbak Lis membantu dengan meluruskan tangan. Saat akan melalui pundak, Mbak Lis diam saja, tidak

mengangkat tubuh. Lalu kupegang daster dengan tangan kiri, kusangga dada bawah Mbak Lis dengan lengan

kanan yang menyilang hingga menyentuh susu kirinya.


“Kapan lagi bisa dapet kesempatan kayak sekarang“, batinku gembira.


Mbak Lis tetap merem tapi mengeluarkan suara


“Emm..“ dan sedikit menggerakkan pundak, kepalanya tetap miring ke kiri.


Praktis tinggal cd yang masih melekat di tubuhnya. Kulanjutkan memijat dan mengurut punggungnya, dari

bawah ke atas. Tiba – tiba


“Mas..pantat tadi belum dipijet pakai lotion ya ? Ulangi lagi ya..kurang mantep“.

“Anything you wish Mbak“, jawabku.

“Huu..sok Inggris”, Mbak Lis berkomentar.

“Kan memang lumayan”.

“Iya deh”. Batinku berpikir

“Hmm..mulai naik nih si Mbak kayaknya”. Kulepas cd – nya, dengan mengangkat dua pahanya saat turun

melewati pantat.


Kutuang lotion di 2 telapak tangan. Kuremas lagi pantatnya. Aku menggunakan 2 jempol ketika mengurut

pantatnya. Saat kumulai dari bawah pantat untuk mengurut, mau tidak mau mengenai garis tengah 2

pantatnya.


“Geli Mas..”.

“Lha kan memang pasti kena. Kalo nggak kena berarti gak full pantat tho Mbak”.

“Iya sih”. Dua pahanya kubuka lebih lebar lagi untuk mengurut paha dalamnya.


Ketika naik, 2 jempolku mengenai area bagian bawah anus Mbak Lis, yang merupakan area lumayan sensitif

baik bagi cewek dan cowok.


“Emm..”, reaksi Mbak Lis dengan mencengkeram sprei.


Penisku makin berdenyut dan mengembang. Bukan sengaja tapi kuulang hingga 3x, karena aku wajib

menuntaskan tugas. Mbak Lis makin kuat mencengkeram sprei di atas kepalanya. Kurasakan area itu

menghangat dan ada sedikit basah, entah karena keringat atau cairan vagina yang mulai keluar.

Kulanjutkan dengan mengurut sisi kiri dan kanan tubuh Mbak Lis. Jelas mengenai sisi luar susunya, agak

mengeras kurasa. Mbak Lis sedikit mengerak2kan kakinya.


“Geli Mas ah..”, saat mengenai ketiak kanan dan kirinya dan mengerak2kan tubuhnya.

“Katanya apa aja Mbak gak protes”.

“Iya..tapi kan memang geli”. “He3x”.


Aku membuka kaos karena kurasa panas tubuh yang mulai meningkat.


“Mbak..bagian belakang udah semua. Sekarang yang depan”. Mbak Lis memutar tubuh untuk telentang.

“Akhirnya..bagian2 terindah tubuh wanita bisa kulihat sekarang.


Susu Mbak Lis termasuk masih bagus mengingat umurnya. Pentil dan areola warna kecoklatan, keduanya

bentuknya tidak membesar walau sudah mempunyai anak. Perut sedikit berlemak, wajar. Vagina juga masih

ok, warnanya sedikit hitam, dengan rambut yang tertata rapi tidak lebat. Ahh..semuanya kesukaanku”,

batinku.


Ada 2 menit aku menatap tubuhnya. Mbak Lis tetap merem, mungkin malu.


“Ayo Mas mulai mijet. Katanya sekarang yang depan”. Mbak Lis membuka mata

“Lagi ngapain..eh malah liat2. Malu ahh”, Mbak Lis lalu menutup dada dan akan mengatupkan paha.


Tapi karena aku ada di antara 2 pahanya maka ia tidak bisa mengatupkan pahanya, hanya mengangkat paha.

Langsung kutahan dengan 2 tangan gerakan pahanya


“Yah Mbak..kalo gak mau keliatan yaa depannya gak usah aja. Dan lagi tubuh Mbak masih bagus”.

“Uhh gombal..biasa cowok”, Mbak Lis menatapku dengan mulut yang sedikit meruncing .

“Yaa..benernya sih gak terlalu bagus. Biar seneng aja”, aku menggodanya.


Mbak Lis membelalakkan mata dan sedikit menegakkan tubuh lalu mencubit paha dan tanganku.


“Habis..memang bagus kok. Dipuji gak mau..yaa aku batalin..he3x”.

“Udah..sekarang Mbak telentang yang manis, diem dan nikmatin aja..ok“, sambil kubaringkan tubuhnya

kembali dan kutatap 2 bola matanya dengan merundukkan tubuhku.


Nafas hangatku menerpa wajah Mbak Lis. Kucium kening atasnya yang ada anak rambutnya. Kata orang, wanita

bila dicium area itu merasa lebih disayang dan perhatikan. Kami saling bertatap mata. Mbak Lis tidak

bereaksi, cerpensex.com hanya 2 bola matanya menatapku dalam dan dua tangannya berpegangan pada 2 lenganku ketika akan

kurebahkan. Mbak Lis kembali merem. Kuletakkan 2 tangannya di sisi kiri dan kanannya. 2 pahanya kembali

kuturunkan dan lebarnya seperti semula. Aku duduk lebih maju, otomatis lututku mengenai paha dalamnya.


Aku memulai memijat kening; pipi dan area sekitar mata, tanpa lotion. Sengaja kurundukkan tubuh agar

nafas kami saling mengenai wajah. Ada 2 – 3x Mbak Lis membuka matanya. Seakan penasaran apa yang akan

kulakukan selanjutnya dan ada sinar nyaman dan sayang yang kutangkap. Kusentil ujung hidungnya. Ketika

kusentil bibirnya seperti orang ketika akan menyalakan kenop lampu


“Uuhh..jahil”. Aku hanya tersenyum.


Kulanjutkan mengurut dan memijat 2 lengannya. Lalu mengurut sisi kanan dan kiri tubuhnya. Nafasnya

sedikit naik turun ketika mengenai sisi luar susunya. Tanpa bertanya dulu, aku memijat dada sekarang.

Dari bawah leher turun terus. 2 pentilnya tak kusentuh. Kupijat dadanya, bukan, lebih tepat mengurut dan

meremas pelan. Mbak Lis makin naik turun dadanya. Kulirik dua tangannya kuat mencengkeram sprei. Susu

Mbak Lis lebih mengeras dan 2 pentilnya makin tegak. Aku menggodanya dengan menyentil pentil kirinyaCerpen Sex


“Kok tegang dan keras Mbak..”.

“Mas ini..ahh..malu aku”, ujar Mbak Lis.


Di bagian perut aku hanya mengurutnya pelan. Turun lagi..area vagina. Aku mulai dengan memijat dan

mengurut paha dulu. Dari bawah ke atas. 2 jempolku mengenai lagi area vagina dan anusnya. Area itu jelas

sangat sensitif bagi siapapun.


“Eeemmm”, Mbak Lis mulai mengerang dan sprei makin kusut karena cengkeramannya.


Kulihat memang vaginanya sudah basah dan mengeluarkan cairan. Nanggung, kuurut pula dinding luar vagina

Mbak Lis.


“Hmpf..hmpf..eengghh..ennggghh”, desah dan erangan Mbak Lis makin keras menggema di kamar kami.


Vagina makin basah dan cairannya mulai mengalir ke luar. Kusengaja berlama2 area ini. Jempolku kadang

kuurutkan di sungai luar vagina, yang membuat denyutan di vagina Mbak Lis tambah kuat.


“Mmmass..kamu apain mpekkuuu…”, racau Mbak Lis.

“Mbak jorok juga bahasanya ih..”, aku berkomentar.

“Kamu kok nakal Mmmasss..Oouugghhh..eemmppfff”.


5menit kemudian tangan Mbak Lis mencengkeram lenganku kuat2 dan mengangkat 2 pahanya, membentuk huruf A.


“Aaaahhh..Mmmmasss..uuhhfffssttt..eeemmm”, disertai lenguhan nafasnya yang berhembus keras dan lava

panasnya mengalir deras membentuk pulau yang cukup luas di sprei.


Pahanya tetap dalam huruf A dan tanganku pun tetap dicengkeram kuat2 sekitar 5menit. Mbak Lis merem

dengan bibir berhuruf o kecil. Aku bahagia melihatnya, bisa memuaskan orang yang walau relatif baru

dekat. Aku merundukkan badan, nafasku berhembus di wajahnya. Lalu kucium lembut bibir yang sedang

membentuk huruf o kecil itu


“Cup..”. Mbak Lis membuka matanya, dengan sedikit berkaca2.

“Kok nangis Mbak..aku bikin salah ya ?”

“Nggak Mas..aku bahagia dengan apa yang Mas lakuin. Makasih ya Mas”, Mbak Lis menarik kepalaku dengan

tangan kiri, sedang yang kanan memegang pipi kiriku, menciumku dalam2.


Kubalas dengan mengelus2 rambutnya dengan tangan kiri, tangan kananku memegang leher kirinya. Kami

berciuman dengan mesra dan saling bertukar lidah, sekitar 5menit, lalu kuhentikan.


“Kok berhenti Mas ?“. Aku hanya tersenyum, kukecup lagi bibirnya

“Cup..“, lalu aku kembali duduk tegak menatapnya.


Mbak Lis juga tersenyum, manis sekali. 2 tanganku digenggamnya mesra.


Aku merendahkan tubuh lagi dan kututup kelopak matanya lagi lalu kucium. Kening Mbak Lis sedikit

mengernyit, tanda bertanya2, tapi ia kemudian tersenyum. Pasrah pada apa yang akan kulakukan

selanjutnya. Aku turun dari spring bed, melepas celana dan cd – ku. Penisku langsung terbang dengan

gembiranya, benar2 full erection. Slot Online Terpercaya


“Mbak..mengkurep lagi ya“, aku memerintahnya.


Mbak Lis kembali memutar tubuh dengan mata tetap terpejam, telungkup. Aku naik ke spring bed lagi. 2

tangannya kembali kuatur seperti semula. Kulumuri seluruh tubuh belakang Mbak Lis, mulai kaki hingga

punggung, lalu tubuhku sendiri. Aku merambat dari kaki, seperti ular menuju ke atas. Gampangannya, aku

surfing di tubuh belakang Mbak Lis. Saat tubuhku atasku mencapai punggung, kukecup lembut belakang

leher, sedikit kugigit kecil. Mbak Lis menggerak2kan kepala tanda geli


“Mass..geli aku“. Kukecup punggungnya walau hanya sedikit karena telah penuh lotion.Cerpen Sex


Aku menurunkan tubuh lagi. Merambat naik lagi. Kali ini kepala penisku sedikit menyentuh daerah

pertemuan vagina dan anus.


“Emm..Mmaass..“, Mbak Lis mulai mengerang lagi.


Kulakukan hingga 5x. Tangan Mbak Lis kembali mencengkeram sprei, punggung dan pantatnya sedikit

menegang. Telapak kakinya agak menekuk, tanda gairah mulai melanda kuat. Kukecup mesra pipi kirinya,

karena Mbak Lis kepalanya miring ke kiri. Kutiup pelan lubang kupingnya.


“Geli ah Mas..“, dengan menggeleng2kan kepala.


Aku turun dan naik lagi. Kurasakan kepala penisku sedikit memasuki pintu vaginanya.


“Oohh..emm..“, erang Mbak Lis.

“Mbak..telentang ya sekarang“, pintaku.


Mbak Lis sepertinya enggan menurutiku karena untuk memutar tubuhnya ia melihatku dulu dan


“Ngapain sih Mas bolak balik..“, protes rupanya.


Aku menaruh telunjuk kananku di bibirnya sambil tersenyum.


“Tutup mata lagi ya..“, aku memerintah Mbak Lis.


Kubuka pahanya lebih lebar dari pada sewaktu telungkup tadi. Aku mengusapkan lotion di tubuhku dan

kutuang di tubuhnya, lalu merambat dari kakinya lagi. Kulakukan pelan2 sambil telapak tangannya

kugenggam erat. Sewaktu mendekati vagina, kutiup; kukecup dan kujilat.


“Eemm..Maass..“, Mbak Lis mengerang lagi. Kugelitik pusarnya.

“Geliii Masss“, katanya.


Di daerah dada, kuremas dulu susunya. Kucium pucuk pentil kanannya. Kujilat yang kiri, bergantian. Mbak

Lis mencengkeram lenganku erat. Lalu kuhisap kuat bergantian.


“Maasss..eemmmppff“. Kuputar2 pentilnya di dalam mulutku yang semakin tegak dan mengeras.


Mbak Lis pun makin mengeliat2. Sekarang kugunakan jempol dan telunjukku kiri dan kanan untuk bermain2

dengan pentil2nya. Sedang bibirku menuju bibir Mbak Lis, menciumnya dalam2. Kepalaku dipegang kuat2

dengan 2 tangannya. Saling sedot lidah, gigit. Sesekali kujulurkan lidahku di langit2 mulut atasnya

kuat2. Hal itu menyebabkan Mbak Lis megap2, seakan kehabisan nafas. Mbak Lis membelalakkan mata tapi

bibirnya tetap kukuasai. Tangan kiriku kuturunkan ke vaginanya. Kutekan2 jempolku di sana. Sekuat tenaga

Mbak Lis melepaskan bibirnya dariku.


“Hah..ooohh..adduuuhh Maasss..“. Langsung kutusukkan jari telunjuk dan tengah kiriku masuk ke vagina

Mbak Lis.


Kontan pahanya menjepit tangan kiriku yang sedang beraktifitas. Tangan kiri Mbak Lis mencengkeram

pantatku sedang yang kanan tetap kugenggam erat.


“Adduhhh Mmaass..terrruuss..“. Aku menerapkan irama 2x setengah masuk 1x masuk semua.


Mbak Lis semakin kelojotan. Paha; kepala ( walau terus kucium ); dan pundaknya terus bergerak. Aku lepas

ciumanku untuk merambat lagi dengan memposisikan penis tepat di pintu vaginanya. Masuk sedikit, kuturun

lagi, berulang 3x.


“Mmmasss..jangan mainin aakkuu“. Tepat yang ke 4, aku masukkan semua penisku, dengan kugenggam erat2 dua

telapak tangannya dan kucium dalam2 bibirnya.

“Hhmmppff..eennngghhh…eenngghhh“, desah dan erangan Mbak Lis memenuhi kamar kami yang sunyi.


Aku maju dan mundurkan penisku, berirama 3x setengah masuk 2x masuk semua. Ketika kulepas genggamanku,

dua tangannya langsung memelukku kuat2. 10menit kami dalam posisi telentang. Kemudian Mbak Lis ingin

berada di atas, terasa dari gerakan tubuhnya. Kusangga punggungnya dan sehingga Mbak Lis berputar

sendiri.


Kini Mbak Lis yang pegang kendali. Aku diciumnya ganas, tanpa sempat menarik nafas. Kepalaku dipegang

dua tangannya, sedang pinggang dan pantatnya dihujamkan ke penisku dalam2. Kerapatan dan kehangatan

vaginanya masih lumayan. Mbak Lis juga sesekali bergerak maju mundur tanpa menekan pinggangnya. Aku

hanya meremas pantat serta memeluknya erat. Beberapa kali jari tengahku kuusapkan di urat yang tepat di

tengah jalur vagina dan anus, cowok pun juga ada. Area itu salah satu yang cukup sensitif untuk

meningkatkan birahi. Terbukti Mbak Lis semakin mengerang dan kecepatan maju mundurnya pinggang semakin

kencang.


“Mmmaaaass..kamu kok piinntteerr sssihhh“.


Tak berapa lama Mbak Lis merebahkan tubuhnya, disertai luncuran lava panas yang diikuti denyutan otot2

vaginanya.


“Ooohhh..Mmmaaass..eehhmmmppff..ahh..aahhh“, Mbak Lis telah berada di awan rupanya. Kupeluk erat2

punggungnya.


Degup jantungnya terasa benar di dadaku. Sekitar 5menit Mbak Lis di atas tubuhku. Kupegang kepalanya,

kutatap 2 bola matanya yang berkaca2.


“Kok nangis lagi Mbak..aku nyakitin ya ?“.

“Huk..huk..nggak Mas. Mas baiiikk banget sama aku. Sekian lama tak kurasakan perasaan ini. Nyaman

banget”.


Aku membelai2 rambutnya hingga ujungnya, lalu kukecup kening dan bibirnya


“Aku yang makasih Mbak. Mbak yang baik banget sama aku, padahal kita deket baru kali ini”.


Kuusap air matanya dan kukecup bulir2 air matanya yang masih menetes. Rambutku dibelainya pula lalu

bibirku dicium dalam2.


“Mas belum ya ?”. Aku hanya tersenyum

“Cowok kan wajib memuaskan pasangannya dulu”.

“Huu..nggombal lagi”.

“Itu udah prinsipku dari dulu Mbak. Untuk aku kan gampang aja. Selama masih kuat ya kulanjutkan”, aku

berkata panjang lebar.


Ujung hidungku disentilnya


“Nakal..tapi Mas memang ok. Mas mau kan kita deket terus ?”, matanya menatapku dalam, penuh harap.

“Iya Mbak..kalo Mbak nggak baik dan seksi..ya emohlah aku..he3x”. Ia gemas dan rambutku diacak2.


Saat itu entah Mbak Lis merasa atau tidak, kugetar2kan penisku yang masih bersarang damai di vaginanya.

Kupegang erat pantatnya dengan dua tanganku dan kugerakkan maju mundur.


“Hhmmppff..Mmmaass..aku diapain lagi”, Mbak Lis mulai naik lagi birahinya.


Makin lama kecepatan cengkeramanku di pantatnya makin kutingkatkan dan kusertai hunjaman penis hingga

mentok. Mbak Lis belingsatan, menegakkan tubuh lalu meraih dua tanganku, diletakkan di susunya.


Aku meresponnya dengan meremas dan memainkan pentil2nya, tapi tidak terlalu kuat. Mbak Lis menggoyang

tubuhnya sendiri seperti yang kulakukan tadi.


Kuangkat pinggangku untuk menghunjamkan penis, disambut hentakan pinggang Mbak Lis dalam2. Kutarik

kepalanya dan kucium ganas. Kami saling memegang kepala pasangannya.


“Hhegghh..hheegghh..oohhh..Mmmasss..aku mau kkelluuarr llaagiii”. Kutatap matanya

“Oougghhh..Iiiyyaaa Mmmbbbakk..aakkkuuu jjjuugggaaa. Di dalam attaauu..”. Belum sempat kuteruskan

kalimatku langsung disambar

“Ddaalleeemm aajjjjaaa..oouuffsstt..aaayyoo Mmmaasss”. Pantatnya kucengkeram makin erat, kugoyang maju

mundur makin cepat.


Beberapa saat kemudian kurasakan magmaku sudah diujung kepala penis. Kuangkat pinggangku lebih cepat

agar penisku lebih sering mengenai tembok belakang vaginanya dan seiring pantatnya kuhentakkan ke bawah.

Aku diciumnya dalam2. Lidah Mbak Lis kusedot kuat2.


“Oouughhh..aaahhhh..eemmppfffssstt..Mmmaaass”. Kupegang kepalanya dengan tangan kanan erat2 dan tangan

kiriku memeluk pinggangnya sekuatku.

“Mmmbbbaaakk..oouuugghhh..uuufffsstt”. Kami mencapai awan hampir bersamaan.


Mbak Lis merebahkan tubuh lagi, tapi hanya sebentar karena aku balikkan tubuhnya. Kususupkan 2 lenganku

dileher belakang Mbak Lis. Kepalaku di susunya. Kujepit 2 pahanya erat2. Penisku masih berdenyut2

mengeluarkan magma begitu pun vagina Mbak Lis yang juga masih mengeluarkan lava dan denyutannya juga

masih terasa. Lama juga posisi kami seperti itu. Kudengar isak tangis perlahan


“Yahh..kok nangis lagi sih Mbak..maaf aku lupa pake kondom. Padahal udah beli tadi”. Kutatap bola2

matanya.


Kujilat air matanya dan kukecup 2 kelopak mata Mbak Lis. Punggung dan kepalaku dibelainya. Lalu aku

dicium.Cerpen Sex


“Nggak Mas..aku memang pingin magmamu menyembur di mpekku. Aku nangis karena aku bahagia. Mas memang

baik”.

“Aku memang dari tadi pingin k**ku nyemprot mpekmu Mbak”, balasku.

“Jorok ih omongannya”.

“Kan Mbak yang ngajari..hi3x”. Kami tertawa bersama, sedang malam telah larut.


Kucium habis seluruh wajahnya. Mbak Lis membalasnya pula.


“Mbak..tak nyalain air bathtub dulu terus kita berendam yuk. Habis itu bo2”, ajakku.

“Iya sayang..aku juga capek banget habis kamu setubuhi”, dengan senyum manisnya.

“Abis Mbak juga yang nyerempet2 dulu..aku kan hooh aja..he3x”, aku nggak mau kalah.

“Uuhh..dasar..cepet sana nyalain”. Kami pun 2jam berendam bersama di bathtub, berbincang2 apa saja.


Jika tidak melihat kulit jari2 kami yang mulai mengkerut, mungkin bisa lebih lama lagi berendamnya.

Akhirnya kami tidur berpelukan, tanpa busana di balik selimut. Esoknya kami pulang dengan senyum terus

mengembang dan perasaan bahagia yang mekar di hati.

Cerita Sex Langganan

Hasrat Bercinta - Cerita Sex Mentok Dirahim, Aku seorang wanita (sebut saja Melati) umurku saat ini 30 th. Perawakanku terbilang kecil dengan tinggi 153 cm dan berat 40kg. Aku boleh dikatakan sangat menjaga diri, bahkan aku selalu mengenakan busana muslimah dengan rapat setiap keluar rumah. Itulah sebabnya kulitku selalu kelihatan putih terawat meskipun aku tidak pernah melakukan perawatan diri ke salon kecantikan. Bahkan teman-temanku mengatakan kalau wajahku masih seperti anak kuliahan. Aku tinggal di dekat lingkungan pesantren di kota J.

Kejadian ini pada tahun 2005 saat aku menikah dengan seorang yang telah beristri, dan aku menjadi istri keduanya waktu itu. Suamiku ini sebenarnya baik dan mencintai aku. Dan aku pun mencintai dia. Akan tetapi kehidupan rumah tanggaku biasa-biasa saja. Hal itu terjadi mungkin karena pernikahanku sejak awal tidak atas izin istri pertamanya. Sehingga perjalanan rumah tanggaku banyak terjadi permasalahan dikarenakan hal itu.


Suamiku pun pada akhirnya dihadapkan pada pilihan yang sulit, sehingga tidak bisa berlaku adil kepada istri-istrinya. Bahkan buat diriku sangat jarang dia bisa bermalam bahkan hanya untuk 1 malam saja. Pertemuanku dengan suami sangat terbatas hanya pada siang hari saja, meskipun itu aku anggap cukup untuk merajut kemesraan bersamanya. Akan tetapi lama kelamaan aku jadi sering merasa kesepian. Hal itu cukup lama berjalan, tapi aku tetap berusaha untuk sabar dan menerima semua ini sebagai sebuah takdir yang harus aku jalani. Slot Online Terpercaya


Aku bertetangga dengan seorang wanita (sebut saja M) yang suaminya mempunyai bisnis di luar jawa. M kurang lebih sama seperti aku, dalam hal pemahaman agama dan berbusana. Awalnya kami sering bertemu dalam majelis pengajian di pesantren. Akhirnya kami berkenalan dan kami merasa ada kecocokan. Mengingat M ini juga ditinggal suaminya berbisnis di luar jawa, sehingga dia di rumah hanya bersama ketiga anaknya yang masih kecil. Itulah sebabnya aku sering bertandang ke rumahnya dan kami menjadi akrab. Dia baik sama aku, suka membantu dan menolong.


Sampai suatu saat terjadilah musibah gempa bumi yang mengerikan di kotaku. Musibah itu telah meluluhlantakkan hampir seluruh rumah dan bangunan di desaku, termasuk rumahku. Alhamdulillah aku selamat. Itulah awal dari persimpangan kisah hidupku. Setelah musibah itu aku ditawari untuk tinggal di rumah M yang meskipun sederhana namun selamat dari kerusakan parah dan masih layak ditempati. Setelah itu aku jalani hari-hariku di rumah keluarga ini. Selang beberapa hari setelah musibah itu suami M (sebut saja AH) pulang dan akhirnya menutup usahanya di luar jawa demi untuk bersama keluarganya yg sedang tertimpa musibah.


Aku menempati sebuah kamar yg sederhana. Tempat tidur tanpa dipan dan ruang kamar itu tanpa pintu. Hanya ditutup kain korden. Meski demikian, aku sangat bersyukur dalam kondisi sulit seperti ini ada tetangga yg benar2 tulus mau membantu. Aku menjadi akrab dengan mereka dan anak2nya. Setiap hari kami saling membantu membereskan rumah dan pekerjaan-pekerjaan rumah lainnya serta mengurus anak-anak AH.


Dua minggu setelah musibah itu aku periksa ke bidan dan aku baru tahu kalau ternyata aku hamil 2 bulan. Pantas saja, akhir-akhir ini badanku sering terasa capek dan malas untuk beraktivitas seperti biasa. Aku sangat gembira dengan kehamilan pertamaku ini. Aku berharap semoga dengan kehamilanku ini bisa menambah perhatian suami terhadapku. Akupun menyampaikan kabar bahagia ini kepada suamiku.


Hari2 berlalu…..


Namun harapanku akan perhatian suamiku nampaknya harus aku pupus. Suamiku masih bersikap seperti biasanya. Dia masih lebih perhatian pada istri pertamanya, sedangkan untuk diriku tidak lebih sebatas kebutuhan-kebutuhan lahiriah yang dipenuhinya.


Akan tetapi aku sedikit terhibur dengan keberadaanku di keluarga AH ini. Lama kelamaan kami menjadi seperti keluarga yang cukup akrab.


Keakrabanku dengan AH dan keluarganya terkadang membuat batas diantara kami menjadi longgar. Terlebih lagi memang rumah keluarga AH ini tidak luas. Terkadang aku kepergok AH dalam kondisi aku tanpa jilbab. Aku merasa risih sebenarnya, tapi mau gimana lagi ?


Hari2 berlalu sejalan dengan keberadaanku di tengah2 keluarga mereka…


Suamiku seminggu sekali menjenguk aku di rumah AH ini. Terkadang kami keluar berdua, dan sorenya aku dipulangkan ke rumah AH.


Keadaan seperti itu berlangsung kira2 sebulan.


Sampai suatu hari, AH menyatakan sesuatu kepadaku yang cukup membuat aku terkejut.


Yang intinya memberikan harapan padaku bahwa dia bersedia menikahi aku jika saja aku mau bepisah dg suamiku. Aku terkejut bukan main atas niatnya itu. Awalnya aku menolak secara halus. Tapi ketika dia mengatakan bahwa permasalahanku saat ini sudah dia konsultasikan dengan para Kyai (di pesantren), dan semua menyarankan dalam kondisi suamiku yang tidak bisa lagi berbuat adil maka lebih baik berpisah saja. Saat itu aku mulai gamang…. Antara ya dan tidak.

Kadang aku merasa ada benarnya pendapat AH itu, tapi aku juga takut jika harus berpisah dengan suamiku, dan menyandang predikat janda.


Aku, M dan AH terkadang mendiskusikan kondisiku saat itu. Dan dari sekian argumen yang kami ajukan, selalu berujung pada kesimpulan “lebih baik berpisah daripada terdholimi terus…”


Akan tetapi sampai sejauh itu, M belum tahu jika AH sudah mempunyai niat untuk menikahi aku nantinya. AH bilang kepadaku untuk sementara waktu menyimpan dulu hal itu sampai nanti dia sendiri yang akan menyampaikan ke M kalau waktunya tepat.


Dari seringnya kami bertukar pikiran, dan terkadang di situ ada saat saling curhat diantara kami, aku semakin merasa tentram. Sedikit demi sedikit tanpa aku sadari aku merasa mendapat sandaran baru. Sebuah sandaran yang bisa memberikan rasa tenang dan bisa menerima aku. Sementara itu sandaran lamaku aku rasakan mulai usang, dan menjadi hambar bahkan kadang menyakitkan.


Suatu malam ketika aku tertidur sangat lelap (mungkin karena kecapekan dan kondisi kehamilanku)…. Tiba2 aku merasakan ada sensasi hangat menjalar ke seluruh tubuhku….. Antara sadar dan tidak, aku merasa suamiku mendatangi aku…. Akupun menyambutnya dengan perasaan sangat bahagia, bagaikan orang yang telah lama tidak berjumpa dan memendam rindu yang sangat dalam…



Dia mulai mencumbuiku, dari ujung kaki….naik ke betis, lalu paha dan akhirnya ke bagian yg paling sensitive.. Dia cumbui bagian itu dg lembutnya, sampai akupun merasakan sensasi nikmat yg sangat.. Antara setengah sadar aku merespon semua itu dengan birahiku yg mulai memuncak…


Setelah itu aku rasakan dia melepas celana dalamku….akupun hanya pasrah…karena memang aku juga sudah sampai puncak birahi.. Dia mencumbui bagian itu sampai akhirnya dalam keadaan setengah sadar, aku merasakan kenikmatan yang sangat.. Sampai ketika aku rasakan ada sesuatu yg mulai mendesak masuk ke kemaluanku, aku tersadar dan membuka mata….


Dan alangkah tekejutnya aku, karena ternyata yg berada di atas tubuhku adalah… AH..


Kaget, malu, marah dan apalah namanya berkecamuk jadi satu.. Dia langsung membekap mulutku, sambil setengah mengancam dan berbisik…”Jangan teriak..!”



Aku langsung sadar, kalau aku berada di rumah AH. Aku langsung sadar bahwa kenikmatan yang barusan aku rasakan ternyata bukan mimpi. Spontan aku teringat istri dan anak2nya…ingat keluarganya yg selama ini sudah baik padaku. Maka aku pun diam sejenak, aku mencoba berpikir harus bagaimana…. Yang pasti aku tidak ingin terjadi masalah dg keluarganya. Lalu aku mencoba meronta, akan tetapi tenaganya jauh lebih kuat dariku. Dia menindih dengan kuat sambil membekap mulutku…Cerpen Sex


Aku mencoba menutup kedua pahaku, tapi dengan posisi AH yang sudah menindih dan berada diantara kedua pahaku, aku mendapatkan kesulitan untuk itu. Kedua kaki AH mengunci kedua pahaku untuk terus terbuka.


Aku mencoba mendorong tubuhnya, akan tetapi tubuhku yang kecil nampaknya tidak memiliki cukup tenaga untuk mendorong tubuh AH yang tinggi dan berotot itu…


Tangan kanannya terus membekap mulutku dan tangan kirinya menekan tangan kananku. Tangan kiriku mencoba untuk meronta, tapi semua itu sia-sia. AH terlalu kuat tenaganya. Lama kelamaan aku lemas kehabisan tenaga…


Mungkin setelah dia rasa aku mulai lemah, dia mulai mengendorkan bekapannya.


Aku hanya bisa merintih memelas…”Abang…jangaaaann…”


“Jangaaann…” Aku terus memohon dengan memelas..


Akan tetapi rintihanku sia-sia, AH tetap mempertahankan posisi itu dan mulai membelai kepalaku dan mencoba mengecup bibirku… Dikulumnya bibirku, dan lidahnya berusaha menerobos masuk. Aku berusaha mengatupkan kedua bibirku dengan kuat.


Perlahan-lahan tangan kirinya mulai meremas lembut payudaraku beberapa saat….


“Abang….tolong lepas….jangan abang….” Aku terus memohon dengan rintihan yang pelan nyaris tak terdengar. Bagaimanapun juga aku khawatir kalo aku sampai membangunkan M, yang tentu akan memicu masalah yang lebih besar.


AH tidak juga bergeming, bahkan dia terus mempertahankan posisinya…Cerpen Sex


Setelah itu, aku rasakan kemaluannya mulai mencari-cari jalan untuk menerobos liang senggamaku. Aku tersentak dan berusaha menghindarinya. Akan tetapi dengan sisa-sisa tenagaku yang tidak seberapa, usahaku sia-sia. Akhirnya, dengan dua atau tiga kali dorongan dia menemukan liang itu dan mulai mendorong pelan kemaluannya masuk lebih dalam lagi dan lagi…


“Sakiiit abang….” Aku merasakan agak perih ketika kepala kemaluan AH mulai menerobos liang senggamaku.


Dia mendorong terus kemaluannya sampai akhirnya aku rasakan semua tenggelam dalam liang senggamaku. Aku menahan nafas, dan AH menahan posisi itu beberapa saat. Setelah dirasa aku agak tenang, AH meneruskan aksinya dengan gerakan-gerakan yang lembut dan pelan-pelan….sambil terus dibelainya kepalaku dan sesekali dikecupnya bibirku.


Kemaluannya terasa memenuhi seluruh ruang di liang senggamaku, berbeda rasanya dengan punya suamiku.. terasa lebih besar dan padat.. AH terus menariknya, dan mendorong dengan gerakan yang lembut dan teratur…. berulang-ulang….


Pada awalnya aku merasakan perih di liang senggamaku, barangkali karena keterkejutanku ketika aku tersadar membuat nafsuku spontan hilang. Akan tetapi dengan kejadian yang sudah berlangsung seperti itu lama-lama aku rasakan senggamaku mulai bisa menerimanya. Cairanku pelan-pelan mulai membasahi dinding-dindingnya dan otot-ototnyapun mulai merespon tanpa bisa aku tahan sedikitpun. Beberapa kali kepala kemaluan AH terasa menyentuh mulut rahimku.. uh, sedikit ngilu.. tapi nikmat.


Aku bingung, malu, takut, bercampur jadi satu dg sensasi aneh yg pelan-pelan mulai merasuki…


Sensasi aneh yang membuat aku bingung. Perlahan tapi pasti getar-getar rasa nikmat mulai menjalar ke seluruh nadiku…


Entah syetan apa yang berperan, lama-lama secara reflek aku mulai mengimbanginya dengan gerakan-gerakan kecil pinggulku….


Aku tidak bisa lagi berpikir jernih …..


Yang ada waktu itu hanya rasa malu, bercampur bingung yang sudah tertutup rasa nikmat yang mulai menjalar.


Malu karena aku yang selama ini selalu menjaga diri dengan menutup rapat tubuhku, malam ini tubuhku nyaris telanjang di depan laki-laki yang bukan suamiku.

Bingung,…mengapa getar-getar nikmat itu bisa ikut menjalar dalam kejadian seperti ini??


AH mulai mempermainkan temponya, kadang dia percepat kemudian diperlambat….


Kadang dia benamkan dalam-dalam dan dia tahan sambil diputar-putarnya di dalam rongga senggamaku.


Sensasi yang aku rasakan pun semakin dahsyat….


Aku masih mencoba berpikir jernih bahwa pebuatan itu terlarang, akan tetapi gataran-getaran rasa nikmat itu seakan menepis semuanya…..


“Abang….aaaahhhhh….” Tiba-tiba AH mempercepat tempo permainannya beberapa saat dan itu membuat aku tersentak terbelalak mencoba menahan sesuatu yang mendesak kuat dari dalam…..


Akan tetapi tanpa bisa aku bendung, desakan-desakan itu semakin menguat dan….. “Abang..bang….!! Aaaaccchhh……” Aku terbelalak, tanganku meremas kuat kepala AH dan kedua kakiku terangkat tinggi sambil pahaku menjepit kuat-kuat paha AH. Yaahh….sampailah aku pada orgasmeku….


Betapapun aku ingin menahannya, kenyataannya aku tidak mampu. Daguku mendongak dan lenguhan kecilku tidak bisa aku sembunyikan lagi…. Otot-otot senggamaku terasa berdenyut-denyut meremas batang kemaluan AH yang masih tertanam dalam-dalam.


AH tersenyum….entah apa arti senyumannya itu…

Sesaat kemudian aku terkulai lemas…Cerpen Sex

Mungkin karena dilihatnya aku mulai menikmati, dia semakin berani meneruskan aksinya…


AH memulai lagi mendorong dan menarik kemaluannya, kali ini langsung dengan tempo yang cepat…. Aku yang sudah lemas dibuatnya terengah-engah menahan serangannya. Dan dengan mata terpejam, aku ikut menyambut gerakannya dengan goyangan pinggulku. AH pun semakin liar menyetubuhiku. Sambil menggenjotku, tangan AH menjalar, meremas kedua payudaraku dengan gemas. Ditariknya penutup BH-ku ke atas, sehingga payudaraku pun kini terbebas sempurna dari kekangan, dan dengan liarnya kedua payudaraku ikut bergoyang ke kiri ke kanan, ke atas ke bawah seirama dengan goyangan dan genjotan AH.


AH semakin bernapsu… sembari menggoyang tubuhku, puting merah muda payudaraku yang sudah berdiri dengan tegak dijepit-nya dengan jari-nya, dipilin dengan gemas. Mulutnya juga bergerak. Dikulum-nya kedua puting payudaraku, dipermainkannya dengan lidah yang kasar. Aku hanya bisa melenguh seperti anak sapi.. “ Uuuuuugggghhhhhh.. ugggghhhhhh..”


Kemudian ditariknya tubuhku hingga sejajar dengan tubuhnya, pahaku pun kemudian ditumpukannya di atas paha-nya. Dengan posisi duduk seperti ini, clitorisku pun bergesekan langsung dengan batang kemaluannya. Ah, aku hanya bisa menggigit bibir bawahku utk menahan sensasi yang timbul.. nikmat sekali rasanya. Kupeluk kepala AH dengan kedua tanganku.. tanpa malu-malu kupagut bibirnya dengan bibirku. Lidah AH pun bergerak lincah.. menerobos masuk ke dalam mulutku, membelit lidahku dengan ganas.


Aku semakin terbang..


Bersamaan dengan itu, tangan AH juga bergerak lincah.. diremas-nya kedua payudaraku.. dan tak ketinggalan putingnya dipelintir dengan jari-jari-nya. Bibirnya bergerak perlahan.. menyusuri bagian belakang telinga..kemudian bergerak ke bawah menyusuri leherku yang jenjang.. dan tiba-tiba, bagian ular Cobra, gigi-nya mematuk dan mulutnya mencupang leherku dengan keras.


Aku hanya bisa menjerit lirih..


Tidak berselang lama, tangan AH memeluk tubuhku dengan erat.. puting payudaraku terasa bergesekan lembut dengan rambut di dada-nya.. uh, geli kurasakan.


Dirapatkannya kedua paha-nya.. bongkahan pantatku dipegang-nya dengan kedua tangan. Dibantunya pergerakan naik turunku di atas pahanya.. semakin cepat dan cepat.


Bibirnya kembali mencari bibirku.. lidah kami berdua kembali bertaut. Dan tiba-tiba dibenamkan kemaluannya dalam-dalam hingga ujung kepala-nya terasa mentok di ujung rahimku, dan kemudian menahannya sambil mengejan….”Uuurrgg…aaacchhhh…, saaayyyaaaang…..” lenguhan panjangnya tepat di telingaku yg lebih pas menyerupai bisikan tanpa getaran pita suara.


Rupanya dia mendapatkan orgasmenya. Aku rasakan batang kemaluannya berdenyut-denyut di dalam liang senggamaku, dan terasa beberapa kali semburan hangat benihnya dalam rahimku…


Ya….rahim yang saat itu sudah berisi janin dari suamiku…

Malam itu AH menuntaskan hajatnya denganku…


Setelah selesai dia ke kamar mandi, lalu kembali ke kamarnya.. Aku termangu dan terkulai lemas di pembaringanku. Kulihat jam di hp-ku menunjukkan pukul 2.48.Setelah itu kesadaran dan akal sehatku mulai pulih…Aku menangis,… Aku merasa sangat bersalah…!Bersalah pada suamiku…. Bersalah pada M sahabatku…


Aku hanya bisa menangis dan terus menangis.. tak bisa tidur lagi sampe pagi.


Keesokan paginya AH sms ke hpku,”Maaf ya, aku khilaf tadi malam. Awalnya aku takut, tapi waktu aku lihat Melati jg menikmatinya, jadi kebablasan deh.”


“Iya, abang kok bisa gitu sih ? Jangan diulangi ya…” Jawabku.


Aku termangu sendiri, berpikir mengapa itu bisa terjadi ??

Mengapa terjadi padaku..??

Dan parahnya lagi, mengapa aku semalam bisa menikmatinya…??

Aku mulai berfikir, apakah ini karena sebenarnya dalam alam bawah sadarku aku merindukan kehangatan dari suami ?


Memang selama ini urusan tempat tidurku dengan suami lebih banyak terasa hambar. . Mungkin karena banyaknya persoalan yang terpendam dan menumpuk aku selalu hampir tidak pernah mencapai puncak. Apalagi setelah musibah gampa bumi, boleh dikatakan tidak pernah suamiku menyentuhku. Sehingga semalam ketika terjadi peristiwa itu aku hampir bisa dikatakan pasrah, tanpa perlawanan yang berarti. Bahkan barangkali alam bawah sadarku sebenarnya menginginkannya…


Ah…yang sudah terjadi biarlah berlalu, pikirku…

Aku hanya takut kalo kejadian tadi malam diketahui M, istrinya….

Mengingat M hanya tidur di kamar yang bersebelahan dengan kamarku…

Setelah malam itu hari-hari berlalu dan aku berusaha bersikap seperti tidak pernah terjadi apa-apa…

Aku tidak ingin M, istrinya tahu peristiwa malam itu…

Begitu juga kepada suamiku…. Aku simpan rapat2 peristiwa malam itu….


Waktu itu aku mulai berpikir, barangkali benar apa yang dikatakan para Kyai di Pesantren itu Barangkali memang sebaiknya aku berpisah dengan suamiku. Bukankah dia tidak bisa lagi berlaku adil padaku ? Bukankah aku juga punya hak yang sama dengan istri pertamanya ? Bukankah AH sudah membuka pintu harapan bagiku ? Dan berbagai pernyataan batinku memenuhi benakku sekedar untuk mencari pembenaran atas pemikiranku….


Dua minggu setelah peristiwa malam itu…..


Pagi-pagi AH pamit mau ikut gotong royong memperbaiki rumah warga yang rusak karena gempa. Memang waktu itu masih banyak rumah warga yang rusak dan kami di kampung itu menerapkan sistem gotong royong saling membantu untuk memperbaikinya. Meskipun bantuan dari masyarakat luar desa juga ada, akan tetapi kami selaku warga yang tinggal di desa itu merasa tidak bisa berpangku tangan.


Setelah AH pergi, M istrinya juga pamit mengantar anak-anaknya sekolah. Anaknya yang paling tua kelas 2 SD, kedua TK dan yang ketiga belum sekolah. Sarana sekolah menjadi prioritas perbaikan di desa kami, mengingat warga tidak bisa membiarkan anak-anak mereka berlama-lama tidak sekolah. Jarak sekolah dari rumah AH kurang lebih 15 menit dengan berjalan kaki. Jam 7.30 M berangkat dan biasanya pulang sampai rumah sekitar jam 11.30 karena M harus menunggu anaknya yang duduk di bangku TK.


Setelah M pergi maka aku mengerjakan tugas-tugas di rumah mencuci baju dan bersih-bersih.  Itung-itung aku harus ikut meringankan pekerjaan M mengingat aku sudah banyak dibantu selama ini. Sangat tidak pantas rasanya kalau aku hanya berpangku tangan sementara mereka bekerja. Aku berusaha mengerjakan tugas-tugas itu dengan baik, dan siang itu kurang lebih jam 10 selesai sudah semua pekerjaan rumah. Badanku terasa capek dan aku segera beristirahat di kamar.


Baru saja aku membaringkan badan, tiba2 ada suara salam dan ketukan di pintu depan. Aku terkejut, karena itu suara AH. Aku segera mengenakan jilbab besarku dan belum sempurna aku mengenakannya aku dengar langkah kaki AH sudah memasuki rumah. Aku segera memberi tahu kalo M belum pulang. Maksudku supaya AH tidak masuk rumah karena aku sendirian. Sangat tidak enak kalo ada yang tahu, apalagi ini siang hari….


“Abang, M belum pulang. Abang jangan masuk…..!”

“Cuma mau ambil sekop kok,Dik…. Sebentar aja.”


Terdengar suara gaduh AH di belakang mencari-cari sekop. Aku masih tetap di balik tirai kamar, tidak berani keluar. Meski ada rasa khawatir, tapi jantungku mulai berdetak lebih kencang. Bayangan-bayangan itu mulai muncul lagi….


“Ah….enggak ! Jangan sampai !” pikirku.

“Adik, lihat sekop ga ya ? Kok ga ada di sini ?”

“Di belakang situ kayaknya…” jawabku

“Tolong bantu cari dong…keburu mau dipake nih…”


Dengan perasaan cemas dan jantung yang makin berdetak kencang aku keluar dan menunjukkan posisi sekop yang tertindih barang-barang lain.


“Yups…ini dia…. Makasih ya… Adik udah makan belum ? lhoh, kok keliatan pucat sih?”

“Adik sakit ya? Udah, istirahat. Kasian kan kandungannya…”

“Ga pa pa kok….” Jawabku.


Aku segera mengambil langkah untuk kembali masuk ke kamar melewati ruang tengah. Tiba-tiba tanpa kuduga AH mendekap perutku dari belakang. Dia lingkarkan tangan kanannya ke perut sambil sedikit ditariknya badanku, sehingga sekarang aku berada dalam dekapannya. Belum hilang rasa kagetku, dia langsung dongakkan wajahku dengan tangan kirinya sehingga wajahku menengadah dan berhadapan dengan wajahnya. Spontan dia kulum bibirku sambil tangan kanannya mulai meraba ke atas…..


“Jangan lagi Abang….Jangan…!” Aku memohon.

“Sebentar aja, Dik…” Jawabnya sambil terus mendekapku dengan kuat.

“Jangan….nanti M pulang lho… Akh..jangan….mmmhh…..”


Dia terus mengulum bibirku sambil mengelus payudaraku. Birahiku pun perlahan mulai bangkit.


Ya….sebuah rasa yang memang sudah agak lama tidak aku dapatkan. Dari semenjak gempa, perjumpaanku dengan suami sangatlah terbatas. Kalaupun berjumpa tidak pernah bisa ada ruang dan waktu untuk privasi.


Sehingga ketika siang ini aku mendapatkan perasaan itu maka terasa sulit juga untuk mengelak. Meskipun aku juga khawatir kalau M tiba2 datang. Akan tetapi aku merasa sedikit tenang, karena posisi ruang tengah ini tepat menghadap ke jalan dimana jika M pulang maka 100 meter sebelum sampai pintu pasti terlihat dari ruang ini, dan kami bisa segera menghindarkan diri dari penglihatan M. AH bisa segera keluar dari pintu belakang dan kembali bekerja bakti.Cerpen Sex


Aksi kami pun berlanjut…. AH semakin ganas mengulum bibir dan lidahku….sambil diremasnya payudaraku dengan lembut…


Aku hanya bisa menggelinjang dan mendesah…..


“aaahhh….mmm…..abang….”


Dalam posisi masih bediri berhadapan AH menarik bagian bawah jubahku. Rupanya dia mau menggarap bagian senggamaku. Aku memberikan jalan dengan agak melonggarkan kakiku….


Benar saja, jari-jemari tangannya mulai menelusup menembus celana dalamku. Dicarinya bagian clitorisku dan dielus-elus dengan lembutnya…


Clitorisku mulai terasa basah dan jari-jemarinya mulai terasa licin menelusuri permukaannya. Nafasku mulai memburu dan aku mulai memekikkecil…”uuhh…aaaa…hhh..mmmhh….”ketika ujung jari telunjuk-nya menerobos masuk ke liang senggamaku..


Aku semakin menggelinjang dan aku jepit jari-jemarinya dengan pahaku…


“Dikkkk …..” bisik AH di telingaku….


AH memelorotkan celana dalamku, dan diapun membuka sedikit celananya sebatas turun ke lututnya. Aku sedikit diangkatnya, rupanya AH menginginkan posisi sambil berdiri.


Aku pasrah ketika kepala kemaluannya mulai menyeruak bibir senggamaku dari bawah dan menekannya ke atas…..Bleesss…. Seluruh batang kemaluannya langsung masuk ke senggamaku. senggamaku terasa penuh sesak dan kurasakan rahimku tertekan ke atas…dan clitorisku langsung tertekan pangkal kemaluannya yg berbulu lebat…


“Aaacchhhh……” Aku mendesah…


Seluruh batang kemaluannya tertanam di liang senggamaku. Kami berpelukan dalam posisi aku dalam gendongannya. AH tidak banyak bergerak rupanya dia faham kondisiku yang lagi hamil. Dia menekan dengan kuat pantatku dengan tangannya dan memutar-mutar batang kemaluannya. Seluruh dinding liang senggamakupun terasa diaduk aduk, serta merta clitorisku menerima gesekan-gesekan lembut dari pangkal kemaluannya dan itu menimbulkan rasa nikmat yang luar biasa….


Aku hanya terpejam menikmati permainan AH ini….


Hasratku naik dengan cepatnya, aku memeluk lehernya dengan kuat. Dan bibir kami pun beradu dengan beringas….lidah kami saling beradu untuk membelit dan akhirnya…..


“aaaaaaaaaaaa……mmmmmhh….abbaaaanng….” aku tak bisa membendung orgasmeku yang datang begitu cepatnya. Aku remas kepala AH dengan kuat untuk melepaskan energi yang besar itu.


Diputarnya tubuhku, sehingga posisi AH ada di belakang-ku. Didorongnya tubuhku mendekati tembok.. diposisikannya kedua tanganku menempel ke tembok. Diangkatnya kembali jubahku.. diposisikannya kembali kemaluannya di bongkahan pantatku.. ah aku terkejut…


Akupun sedikit berteriak.. “..jangan abang.. jangan dimasukkan ke lubang pantattttt..”


AH hanya tersenyum, dan hanya berkata.. “..nggaaaak, sayaaangg.. aku cuma peengiiiin dari belakang..”.


Dan dengan perlahan kepala kemaluannya menyeruak masuk ke bibir senggamaku. Uh, rasanya menakjubkan ketika titik G-spot di dalam liang kemaluanku tersodok kepala kemaluannya yang besar.


AH pun menggoyang kembali tubuhku..


Disingkapnya jubahku lebih ke atas.. tangannya kemudian meremas kedua payudaraku dari belakang. Meski masih tertutup BH, tapi rasa geli akibat remasan tangan AH cukup terasa di puting payudaraku yang sudah berdiri tegak..


Tidak berapa lama, desakan orgasme-ku yang kedua pun mulai muncul. Kupeluk dan kutarik leher AH ke arahku.. aku ingin sekali orgasme sambil mencium bibir AH. Rupanya AH tahu keinginanku.. bibir-nya pun segera mengulum bibirku, dan kemudian terasa ledakan orgasme-ku yang kedua. Aarggghhhhhhhhhhhhhhh..

Setelah itu dibaringkannya aku di sofa, dan AH melanjutkan aksinya dengan gerakan memompa dengan cepat.


Tak berselang lama AH mengejan….mendekap tubuhku merapat makin kuat…..


Dia memejamkan matanya sambil melenguh “aaaaaccchhhhh………..” Dan kemudian liang senggamaku pun terasa mendapat kedutan-kedutan keras yang berlanjut dengan rasa banjir lahar panas mengguyur di dalamnya. Aaargggghhh.. aku pun mendapat orgasme yang ketiga.


Sesaat setelah itu, dia roboh ke sofa sambil nafasnya terengah-engah….

Batang kemaluannya terlepas dari senggamaku.


“Kamu luar biasa, Diiikkk…. hebat…”


Jam menunjukkan pukul 11.05…

Sudah dekat waktunya M pulang. Maka aku minta AH untuk segera keluar rumah sebelum M pulang.


Aku membersihkan sofa, barangkali ada sisa-sisa sperma AH yang tumpah. Setelah itu aku mandi membersihkan diri dan memulihkan kesegaranku.


Kurang lebih 2 bulan setelah itu aku benar-benar minta cerai dari suamiku, dan akhirnya kamipun bercerai. Tapi anehnya… aku tidak merasa terlalu berduka dengan perceraian itu. Waktu itu usia kandungankku 6 bulan. Berarti aku mempunyai masa idah selama kurang lebih 3 bulan sampai anakku lahir.


Suamiku memang orang yang bertanggung jawab. Sebulan setelah perceraianku, dia menyewakanku sebuah rumah (yang cukup sederhana karena baru direnovasi seadanya setelah gempa). Rumah itu cukup mungil dan berada di pinggir desa. Tepatnya agak terpisah dari desa dan berada di areal persawahan dan itu satu-satunya rumah di situ. Tetangga terdekat berjarak sekitar 100 meter dari rumah itu dan kurang lebih 300 meter dari rumah AH. Aku menempati rumah itu seorang diri.


Terkadang aku masih bertandang ke rumah M untuk sekedar silaturahim.

Suamiku pun seminggu sekali masih datang menjengukku sekedar menanyakan dan memenuhi kebutuhan sehari-hariku.


Suatu malam, nada sms di hp-ku berdering dan aku terkejut bangun karenanya.Cerpen Sex


Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 23.45. Ternyata dari AH…”Adik…belum tidur kan ??”


Aku tidak menjawabnya karena memang aku rasa sudah malam dan aku masih mengantuk. Akan tetapi tidak berselang lama, nada panggilan berdering dari hp-ku. AH misscall. Akhirnya dg agak malas aku jawab smsnya, “Da pa sih ? Dah malam ni…”


Dia jawab lagi, “Jangan tidur dulu ya, 10 menit lagi aku datang…”

Deg…aku terperanjat….! Gila juga ni orang…

Tiba-tiba perasaanku campur aduk gak karuan….

Terbayang lagi peristiwa-peristiwa yang lalu….

Duh…Mau ngapain ini orang, pikirku. Dah malam gini……


“Eh…ngapain ?! Jangan gila ah….!” Jawabku

“Aku baru pulang dari Jakarta, ada oleh2 buat Adik nih… he he”

“Ga enak kalo aku bawa pulang, ntar ketauan M kan ?” Jawabnya.


Kurang lebih 15 menit berselang terdengar ketukan halus di pintu depanku. Aku segera mengenakan jilbab hitam besarku dan berjalan mendekati pintu dan mengintip dari balik tirai. Ternyata benar, AH yang datang. Nekat juga AH ini…

Begitu slot kunci aku buka, dia langsung nyelonong menerobos masuk rumah. Aku merasa gak enak dan khawatir kalau ada orang yang mengetahui kedatangan AH ke rumahku malam2 begini.


“Ada apa sih ? Gak enak kalo ada yang tahu…”

“Tenang…aku dah survei keadaan, aman. Tadi aku turun di ujung jalan dan jalan kaki ke sini…” Jawabnya.


Dia mengeluarkan bungkusan dari dalam tas dan memberikannya padaku. Setelah aku buka, ternyata 2 stel baju. Satu stel jubah hijau tua lengkap dengan jilbabnya dan satu lagi gaun tidur warna biru yang sangat cantik.


“Makasih yaaa…. Udah, sana pulang….” Aku tidak bisa menyembunyikan kegembiraankku…

“Kok langsung disuruh pulang…?! Abang pengen liat Adik pake dulu baju ini…”


Aku mencoba menolak karena memang sudah malam dan aku benar2 masih khawatir kalau ada orang yang tahu. Akan tetapi bukan AH namanya kalau mudah menyerah. Akhirnya aku turuti permintaannya. Aku ke kamar mandi dan berganti baju yang baru dibelikannya.


Keluar dari kamar mandi aku mengenakan baju jubah hijau dan jilbab besarnya. Terasa pas banget di badanku, seakan-akan baju ini memang dijahit untukku. Aku melihat sudah ada 2 gelas teh panas di meja. Rupanya selama aku di kamar mandi dia menyiapkan teh panas itu. Hmmm….dasar AH, pikirku…


AH izin untuk mandi, karena dari perjalanan jauh badannya terasa capek dan berkeringat. Akkupun mengizinkannya. Dia masuk ke kamar mandi sambil membawa air panas sisa membuat teh barusan.


Setelah selesai mandi AH keluar dengan mengenakan kaos yang bersih dan badannya terlihat segar.


Kami terlibat obrolan2 ringan sambil menikmati teh panas. Obrolan kami berkisar cerita AH yang baru merintis usaha baru di Jakarta sampai akhirnya ke kondisi kehamilanku yang waktu itu sudah memasuki usia 7 bulan. Dia sangat perhatian padaku dan banyak memberi saran ini itu untuk kesehatanku dan kandunganku.


Diam-diam aku semakin merasa nyaman dan senang dengan perhatiannya…

Tanpa aku sadari tiba-tiba tangan kanan AH sudah berada di kepalaku dan dibelainya jilbabku dengan lembut. Aku mencoba mengelak, tapi nampaknya AH membaca kepura-puraanku. Dielusnya dari atas ke bawah….dan sampai di tengkuk, dipijitnya dengan lembut dengan gerakan memutar ibu jarinya. Lama kelamaan akupun sangat menikmati pijatan demi pijatannya. Karena malam itu badanku memang terasa kaku dan capek sekali…


Akhirnya pijitannya turun ke lengan dan punggungku. Agak lama dia pijat bagian tersebut dan akupun semakin menikmatinya…


Entah berapa lama aksi itu berlangsung, tiba2 kurasakan hembusan hawa hangat di leherku. Ya,…AH mencium bagian belakang leherku dari balik jilbabku. Aku agak kaget, tapi pasrah. Mungkin karena suasana yang seperti itu membuat hasratku pelan-pelan bangkit. Rupanya AH faham akan hal itu…


Dia terus menciumi leherku dari belakang, dan akhirnya dibalikkannya tubuhku hingga kami berhadapan. Aksinyapun dilanjutkan dengan ciumannya di bibirku…

Dilumatnya bibirku dengan lembutnya, dan akupun meresponnya. Aku buka bibirku dan lidah kamipun beradu dengan beringasnya….


Untuk kesekian kalinya aku kehilangan akal sehatku. Tapi aku pikir sudah kepalang basah. Bukankah aku sudah dicerai dan AH pun sudah memberikan harapan untukku ?


Apalagi aku dalam kondisi hamil….

Jadi amanlah aku pikir…

Aksi kami pun berlanjut…


Sambil berciuman tangan AH menelusup di balik jilbab dan meraba-raba dadaku. Nafasku mulai memburu dan kuberanikan diri meraba selangkang AH. Terasa betapa kemaluannya sudah mengeras….besar dan panjang. AH membuka resleting celananya untuk memberi jalan padaku supaya lebih leluasa memegang kemaluannya.


“Deg….” Ternyata kemaluannya sangat besar dan keras terasa dalam genggamanku. Aku tidak berani melihat, akan tetapi aku rasakan ada cukup sisa panjang kemaluannya yang tersembul dari genggamanku.


Terdengar AH berbisik.. “adik.. tolong dikocok..”.Cerpen Sex


Selama aku menikah, belum pernah sekalipun aku memegang kemaluan suamiku.. apalagi kemudian mengocoknya. Dengan rasa takut, perlahan-lahan, aku kocok batang kemaluan AH.. mulut kami pun kembali saling beradu.


Tak berapa lama, kurasakan batang kemaluan AH semakin membesar dan mengeras. Akhirnya kuberanikan diri untuk melirik kemaluan AH. Ahhhhhh.. tak kunyana tak kusangka, kepala kemaluan AH sangat besar.. dan terlihat berkilap karena cairan mazi sudah mulai keluar dari celah di kepala kemaluannya.


Kembali terdengar AH berbisik.. “adik.. tolong dicium..”

Aku kaget setengah mati mendengar permintaannya, dan kujawab “..maaf, bang.. aku belum pernah.. aku takut…”

AH pun menjawab.. “ya sekarang dicoba..”


Pundakku pun ditekan kedua tangan AH yang kekar ke bawah.. kakiku pun bertumpu pada kedua lututku.. posisi kepalaku menjadi sejajar dengan kemaluan AH. Dan untuk pertama kali-nya dalam hidupku, aku melihat kemaluan seorang pria dewasa yang sedang terangsang. Bentuknya aneh.. urat-uratnya terlihat jelas bagaikan akar yang mengelilingi batang pohon.. rambut kemaluannya terlihat ikal dan cukup tebal. Dan ternyata lebih aneh lagi pada saat kucium bau-nya.. tapi entah kenapa, tiba-tiba aku semakin terangsang dengan kondisi itu.. kurasakan ada sedikit cairan yang menetes keluar dari liang senggamaku..


Dengan hati berdebar karena takut.. kucoba mendekatkan diri ke kepala kemaluan AH. Perlahan-lahan kujilat dengan ujung lidahku.. kemudian aku menengadah ke atas.. kulihat muka AH, matanya terpejam menikmati sentuhan ujung lidahku.. aku menjadi semakin bersemangat.. kujilat kembali kepala kemaluannya.. berulang-ulang seperti anak kecil yang sedang menikmati permen lolipop.. ujung lidahku pun bergerak menyelusuri batang kemaluannya.. ke bawah dan terus ke bawah hingga pangkal-nya. Kemudian kubalik arah-nya, kususuri dari pangkal hingga kepala.. berulang-ulang.


Mulut AH pun melenguh..


Tiba-tiba, pada saat mulutku menjilat kepala kemaluan untuk yang kesekian kali, kedua tangan AH yang kekar memegang kepalaku.. dan ditariknya kepalaku ke depan.. masuklah kepala kemaluan AH ke dalam mulutku.. Akupun tersedak.. hueeekkksss… hampir muntah rasanya.


Akupun marah.. “..abang.. kenapa dimasukkan ke mulutku..?

AH menjawab.. “..aku sudah nggak tahan, dikkk.. tolong hisap…. tolong..”

Aku segera bangkit berdiri.. aku marah sekali.. kurapikan jubah yang kukenakan.. dan duduk di sofa membelakangi AH.


Melihat aku marah, AH memeluku dari belakang.. dan berbisik di telingaku.. “..maafkan abang yahhhhh.. kamu jangan marah.. abang janji nggak akan mengulangi lagi..”.


Diremasnya kedua payudaraku dengan lembut.. berulang-ulang.. mulutnya pun menjilati bagian belakang telingaku. Meski masih tertutup jilbab, tapi perbuatan AH di belakang telingaku membuat bulu kudukku meremang.. dan membuat menggelinjang menahan geli.


Mendapat perlakuakn seperti itu, aku-pun luluh.. kusambut mulut AH yang ada disampingku telingaku dengan ciuman yang ganas.. lidah kamipun saling memagut satu dengan yang lain..


Kami terlibat dalam percumbuan yang cukup dahsyat, masing-masing dari kami saling merangsang dengan hebatnya. Aku sudah tidak peduli lagi apa yang akan terjadi selanjutnya, saat AH mengangkat tubuhku ke dalam kamar.


Dibaringkannya tubuhku di kasur dan kami melanjutkan percumbuan kami. Dia semakin berani, disibakkannya jilbab besar yang aku pakai dan ciumannya kini mulai turun ke leher dan daerah payudara. Akupun semakin menggelinjang gak karuan…


AH pun makin menggila, dibukanya kancing jubah yg aku kenakan sekaligus celana dalamku. Dan untuk pertama kali-nya, aku telanjang bulat di depan AH. Entah setan mana lagi yang meracuniku sampai rasa maluku malam itu benar2 hilang. Yang ada hanya hasrat yang memuncak dalam birahi. Aku selalu menantikan aksi selanjutnya dari AH….


Mulutnya kembali mengulum mulutku.. kemudian bergerak ke bawah, menelusuri leher-ku yang jenjang.. turun dan terus turun.. dan secara perlahan dikecup-nya pangkal payudara-ku yang putih.


Tiba-tiba aku tersentak dan menjerit lirih, ketika kecupan lembut AH berubah menjadi cupangan dan gigitan yang terasa menyakitkan. “.. ah, abang.. jangan digigit.. sakit..”.


AH hanya tersenyum dan menjawab “.. maaf sayang.. aku gemas dengan payudaramu..”


Lidahnya bergerak lincah.. puting payudaraku dipermainkannya.. bergantian kiri dan kanan.. berulang-ulang entah berapa kali. Dan kembali aku tersentak dan hanya bisa menjerit lirih, ketika mendadak puting payudaraku dihisap AH dengan keras. “..abaaaaanngggg.. uuuggghhhh..” Di tengah nafsu yang melanda, sulit sekali aku membedakan antara sakit dan nikmat akibat hisapan itu.


Bosan bermain-main dengan dadaku, AH pun mulai mencumbui bagian bawahku. Lidahnya mulai menjilati rambut kemaluanku.


Dengan suara gemetar karena menahan nafsu, terdengar AH berbisik “..Aadiik.. rambut kemaluanmu bagus.. rapiiii.. abang juga kangen dengan baunya.. harum..”.


Aku hanya tersenyum malu, dan kedua tanganku pun meremas rambut kepala AH dengan gemas. Duh, sudah tidak sabar rasanya merasakan clitorisku di oral oleh AH.


Tidak berapa lama keinginanku pun terkabul, clitoriskumulai diisap-isap dan dijilat-jilatnya. Aku menggelinjang sangat hebat sampai pantatku terangkat-angkat tidak karuan….lenguhan-lenguhan kecilku menambah panasnya ranjangku malam itu…. ”hhh….ssshhh… aaachh…. abang… aaahh…mmmm….”


Dia bertahan beberapa saat di permainan itu sampai akhirnya aku setengah berteriak,…”Aaaaccchhh…..abaaanggg….aaaaaaahhhhhh” Aku remas rambutnya dan kakiku menjepit kuat lehernya. Yah….aku orgasme….


Suatu kenikmatan yang aku jadi merindukannya…..

Setelah beberapa saat aku terkulai lemas….


AH menciumi wajah dan bibirku sambil tersenyum puas….”Iiihhhh nikmat banget ya….??? Sampe gitu-gitunya….” selorohnya menggoda.


Aku hanya terpejam…..terpejam sambil tersenyum puas….


Aku menarik selimut untuk menutupi tubuhku yang telanjang bulat. Bagaimanapun juga masih ada rasa malu ketika aku tahu AH melihat tubuhku tanpa busana seperti ini.


Beberapa saat setelah itu sambil aku masih terbaring berselimut AH kembali mengurut kakiku. Rupanya dia memahami kondisiku malam itu. Badanku yang memang terasa letih makin lemas rasanya ketika harus meledakkan energi orgasme yang cukup dahsyat barusan. Dia mulai memijit jari-jemari kakiku, kemudian telapak kaki. Dipijatnya dengan lembut bagian itu sampai aku benar-benar merasa cukup. Kemudian pijatannya mulai naik ke betis dan di kanan kiri tulang keringku, sampai ke lutut. Setelah dirasa cukup, mulai telapak tanganku dipijatnya merata sampai ke bahu. Benar-benar relaksasi yang bisa mengendorkan seluruh syaraf dan otot tubuhku. Aku sangat menikmati pijatannya, sampai akhirnya (barangkali) aku tertidur….


Tiba-tiba aku merasakan birahiku merambat naik lagi… Aku tersadar… Ternyata AH mulai merangsangku lagi. Kali ini dia langsung ke clitorisku. Pelan tapi pasti hasratku mulai memuncak lagi. Aku mulai melenguh dan pantatku terangkat-angkat…


Digosoknya clitorisku yang sudah licin dengan jarinya, dan sesekali dimasukkannya jarinya ke senggamaku dengan gerakan keluar masuk. Aku terbelalak, nafasku mulai memburu lagi dan tanganku mencari-cari kepalanya. Aku tarik kepalanya dan refleks kami bercumbu lagi dengan hebatnya. Lidahnya menyapu langit-langit mulutku dan itu membuat aku semakin beringas seakan mau menelan lidahnya bulat-bulat.Cerpen Sex


Setelah dia rasa aku cukup pemanasan, dia membuka kakiku dan memasang posisi siap beraksi… “Gantian ya Dik, abang belum dapat tadi….” bisiknya di telingaku.


Aku hanya terpejam….


“Hati-hati lho, perutku udah besar…” bisikku

“Tenang sayang, aku tahu caranya kok…nikmati saja ya.. coba kamu naik di atasku, sayang….”


Akupun menuruti kemauannya. Aku segera naik ke atas tubuh AH. AH mengelus pantatku sesaat, sebelum aku rasakan kemaluannya mulai menyeruak bibir senggamaku. Mendesak masuk, pelan tapi pasti…


Agak susah masuknya, barangkali dengan posisi itu liang senggamaku menjadi lebih rapat. Dia terus mendorong dengan mantap sampai akhirnya seluruh batang kemaluannya tertanam di liangku.


Aku terbelalak….


AH mulai meremas kedua payudaraku.. dimainkannya kedua putingku dengan ujung jari-nya. Akupun mengimbangi dengan gerakan naik turun.. kurasakan clitorisku menggesek rambut kemaluannya.. uh geli dan nikmat.


Aku rasakan gesekan-gesekan kemaluan besarnya di dalam liang senggamaku mengaduk-aduk G-spotnya. Aku mulai mendesah dan melenguh lagi dan pasrah dalam kenikmatan yang semakin lama semakin memuncak….


Tak selang lama, AH melenguh panjang,…”Uuuuuuggghhhh…..diiikkkkk….” Rupanya dia sudah orgasme duluan. Ditariknya pantatku kuat-kuat dan dibenamkan seluruh batang kemaluannya dalam-dalam. Aku rasakan semburan benihnya amat banyak di dalam rongga senggamaku, sampai aku merasakan ada sebagian yang keluar mengalir turun di pahaku. Setelah itu disuruhnya aku berbaring dan kembali kami berpelukan dengan kuatnya melepaskan energi yg cukup besar itu.


Setelah nafasnya agak teratur, AH kembali memulai permainannya. Sekarang posisi aku terlentang di bawah dan AH menopang badannya di atasku. Ia mulai memasukkan dan memainkan lagi kemaluannya di dalam senggamaku. Luar biasa, tahan lama juga rupanya…


Dia menopang badannya dengan kedua tangan, sehingga perutku aman dari tekanan berat tubuhnya. Dia permainkan kemaluannya di dalam liang senggamaku, diputar-putar dan ditarik keluar masuk perlahan-lahan….kadang agak dipercepat. Terdengar bunyi “crot-crot…” berulang-ulang karena beradunya kelamin kami yang sudah sangat basah.


Dalam gerakan-gerakan dan gesekan antar kelamin yang penuh birahi itu tak lama kemudian aku mendapatkan lagi puncak orgasmeku…. Orgasme yang kedua, yang aku rasakan jauh lebih dahsyat dari orgasmeku yang pertama tadi..


Aku mengejan dan terbelalak, “Uuuuaaaacchhh….. abaanggg… aku sudah mau keluar..”

AH membalas, “.. tahan sebentar ya.. aku juga sudah mau keluar.. kita bareng-bareng yah..”


Dipercepatnya gerakan keluar masuk batang kemaluannya.. cepat, cepat, cepat dan semakin cepat.. hingga akhirnya aku berteriakkk…. “..aaaaahhhhhh……..akh…akhhhh.. ……”


Seluruh otot di tubuhku serasa melepaskan beban yang sangat berat… Aku peluk erat kepala AH dan kakiku menjepit kuat pinggangnya untuk kedua kalinya malam itu. Dan AH pun menyusul berteriak.. “..aaaaahhhhhhhhhh..”. Dibenamkannya kemaluannya dalam-dalam di liang senggamaku.. terasa cairan panas memenuhi rahimku. Tubuhnya menggelepar hebat di atas tubuhku.. tuntas sudah.


Nafas kami memburu beradu dengan nafasnya.

Ciuman kami beradu dengan kuatnya seakan tak mau kami lepaskan. Kami sama-sama terengah-engah malam itu, bermandikan keringat.


Setelah itu,AH memeluk tubuhku dengan lembut dari arah belakang.. lengannya yang kekar melingkar di leherku.. dan kepalaku pun akhirnya disandarkannya di dadanya yang bidang. Dikecup-nya keningku, kedua mataku, kedua pipiku,ujung hidung-ku.. dan mulutku. Kupejamkan mataku.. damai sekali aku rasakan waktu itu, rasanya aku sudah memiliki suami yang benar-benar bisa membuatku bahagia. Kami pun akhirnya tertidur pulas..


Sampai waktu terdengar adzan subuh kami terbangun, dan ternyata posisi kami masih belum berubah.. tubuhku masih ada di dalam pelukan tangannya.


Hari-hari selanjutnya kami sering melakukan hubungan layaknya suami istri di rumah itu.. dan aku pun akhirnya berani melakukan oral sex ke AH. Bahkan, AH sengaja membawakan VCD porno untuk mengajariku bagaimana melakukan oral sex.. sampai akhirnya kami berdua sering melakukan oral sex secara bersamaan.. Slot Online Terpercaya


Kedatangan AH ke rumahku selalu malam hari, kadang langsung pulang dan terkadang tidur sampai pagi. Jika sampai pagi biasanya AH pas dalam perjalanan pulang dari luar kota.


Pernah suatu saat kami melakukannya di kawasan wisata di kota kami. Dengan alasan kepada istrinya ada urusan bisnis di Jakarta. Kami menginap selama 3 hari di kawasan pegunungan itu. Dengan penampilanku yang seperti ini, tidak ada orang yang curiga apalagi aku dalam kondisi hamil yang mulai besar. Orang pasti mengira kami pasangan suami istri….


Sebenarnya aku sadar bahwa aku telah melakukan dosa besar. Akan tetapi aku selalu tidak mampu menolak rayuan AH dan aku selalu terjerumus lagi….dan lagi….


Sampailah hari kelahiran anakku pada bulan Desember 2006. Aku diantar suamiku ke rumah sakit untuk persalinan. Dia menunggui dan mendampingi aku sampai anaknya benar2 lahir.


Setelah kelahiran anakku maka berakhirlah masa iddahku, yang berarti aku benar-benar sudah lepas dari ikatan suamiku. Tidak berselang lama AH benar-benar menikahi aku setelah mendapat persetujuan dari M istrinya.


Akan tetapi ternyata pernikahannku dengan AH tidak bertahan lama, karena aku baru tahu sifat aslinya setelah aku menikah dengannya.


Memang dalam hal ranjang dia sangat memuaskan, akan tetapi tabiat aslinya yang amat kasar ternyata baru muncul setelah menikah. Seringkali hanya karena permasalahan kecil aku harus menerima pukulan darinya. Belum lagi caci maki yang sering keluar kari mulutnya. Selama 3 bulan aku menikah dengannya akhirnya aku tidak kuat dengan perlakuannya. Dan kembali aku minta cerai darinya….


Akhirnya aku berpisah dengan AH dalam kondisi aku hamil 1 bulan.

Sekarang anakku dari AH sudah berumur 3 tahun dan aku masih hidup menjanda bersama kedua anakku.

Cerita Sex Mentok Dirahim

Subscribe Our Newsletter